Alasan Astroturfing dalam Marketing Kerap Tidak Disarankan

Alasan Astroturfing dalam Marketing Kerap Tidak Disarankan

Jobnas.com – Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin masif, semakin banyak pula strategi Marketing yang digunakan perusahaan. Nah, salah satunya adalah Astroturfing, atau kepanjangan dari ‘Astroturf Marketing’. 

Meskipun tak jarang berhasil, astroturf marketing dinilai sebagai strategi marketing yang dinilai berisiko dan bisa membahayakan brand itu sendiri.

Baca Juga: Pentingnya Pengembangan Pelanggan dalam Strategi Perencanaan Bisnis

Mengapa demikian? Yuk, temukan jawabannya dan pelajari lebih lanjut tentang hal tersebut dalam artikel Jobnas.com berikut ini!

Pengertian Astroturfing

Secara definitif, astroturfing adalah usaha perusahaan atau brand membuat kesan dukungan dari berbagai kalangan yang tersebar luas terhadap suatu hal, misalnya kebijakan, pemerintahan, dan lain-lain. Nah kerap kali hal ini juga diterapakn dalam strategi marketing. 

Menurut Big Commerce, astroturf marketing merupakan kampanye yang dilakukan untuk membuat kesan sebuah produk atau jasa dicari banyak orang atas keinginannya sendiri. Akan tetapi, sebenarnya hal ini didorong oleh sebuah perusahaan atau brand dan tidaklah jauh berbeda dari konten bersponsor.

Untuk membuat sebuah gerakan terlihat tampak organik, perusahaan biasanya menyembunyikan partisipasi atau sponsorship-nya. Astroturfing kini hal yang cukup lumrah dalam internet marketing. Untuk menyampaikan pesan bersponsor atau konten secara meyakinkan lewat kanal-kanal tertentu seperti media sosial, blog, dan lain-lain,  hal ini dilakukan dengan mengerahkan sekelompok orang.

Tidak hanya untuk mempromosikan produk atau jasa, astroturf marketing adalah salah satu cara untuk menciptakan kesan atau citra brand tertentu.

Strategi Umum Astroturfing

Meninggalkan komentar menggunakan identitas yang berbeda-beda merupakan hal yang paling sering dilakukan untuk upaya astroturfing dalam marketing. Kamu dapat memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk merealisasikan strategi ini. 

Di samping itu, respons yang diberikan biasanya sangat cepat, misalnya untuk membangun  sebuah trending topic di Twitter dan membuat orang-orang merasa ini adalah hal yang penting dan patut disimak. Dalam hal-hal politis sekalipun, upaya astroturfing ini kerap sering digunakan. 

Baca Juga: Mencari Sponsorship Online? Berikut Tips, Jenis dan Manfaatnya

Dalam hal ini seperti mengundang orang dengan latar belakang relevan dan kredibel untuk menyampaikan opininya mengenai suatu topik yang sedang berusaha digencarkan, dan lain-lain. Untuk marketing, biasanya astroturfing akan kelihatan lebih santai, meskipun tujuannya juga untuk menciptakan perbincangan yang viral sehingga awareness atau kesadaran calon konsumen bisa ditingkatkan.

Dilansir dari Study.com, astroturfing merupakan salah satu taktik marketing yang kurang disarankan untuk dilakukan. Hal ini tentu membuat pesan kampanye yang disebarkan terasa lebih kredibel dan otentik dibanding menggunakan iklan, jika tidak disadari oleh para konsumen. 

Untuk meningkatkan brand image dan keuntungan perusahaan, astroturf marketing biasanya selalu sering digunakan. Namun, jika kenyataannya terkuak, hal ini bisa berbalik menjadi hal yang merugikan bisnis.

Bentuk Astroturfing

Untuk mempromosikan suatu barang atau jasa ada beberapa bentuk astroturfing di internet yang sering ditemukan hingga sekarang, yaitu:

  • Blogger membuat artikel tentang review produk. Post ini seakan-akan jujur dan -tidak memihak brand tersebut.
  • Menciptakan persona palsu di internet untuk membagikan post serupa sehingga menimbulkan kesan ide populis.
  • Pemasangan iklan di situs-situs khusus yang mengarahkan pengunjung pada situs brand atau produk.
  • Membayar sebuah akun media sosial di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain untuk fokus pada suatu brand atau produk tertentu.

Jika hal-hal ini dilakukan untuk mengalahkan perusahaan saingan, hal itu pun dianggap sebagai astroturfing.

Kenapa Umumnya Tidak Disarankan?

Praktik ini adalah strategi marketing yang kurang disarankan, seperti yang telah disebutkan di atas. Langkah ini mungkin memiliki garis pembeda tipis dengan langkah lain untuk beberapa kasus di internet.

Baca Juga: Terapkan White Noise untuk Meningkatkan Produktivitas

Tentu akan menjadi sebuah resiko besar bagi perusahaan apabila praktik ini terbongkar. Salah satu resikonya adalah munculnya public relations crisis bagi perusahaan, di samping menimbulkan malu. Di beberapa negara, praktik ini bahkan bisa menimbulkan jerat hukum bagi para pelakunya.

Itulah penjelasan Jobnas.com terkait Astrotourfing. Nah, sudah lebih paham, kan, mengenai astroturfing? Apakah menurutmu strategi marketing ini baik? Atau justru tidak?

0
20