Menu

Author Archives: Ghufron Writer

Ghufron Writer
1 minggu yang lalu
0

Jobnas.com – Phishing merupakan salah satu bentuk serangan cyber umum yang dapat mengganggu keamanan datamu di era yang serba digital ini. Semua file serta dokumen pentingmu bisa hilang karena aktivitas data breaching tersebut, terlebih apabila kantor tempatmu bekerja sedang memberlakukan WFH. Lalu, seperti apa sih sebenarnya phising itu ? bentuk kegiatan kriminalnya seperti apa ? serta bagaimana cara mengatasinya ? 

Baca Juga: Hati-hati! 6 Hal Ini Tidak Boleh Dikatakan kepada Atasanmu

Nah, di artikel ini Jobnas.com akan menjawab itu semua secara komprehensif. Yuk, simak !

Pengertian Phishing

Secara definitit, menurut Imperva, phishing merupakan jenis serangan manipulasi psikologis yang sering digunakan untuk mencuri data pengguna device. Muncul di tahun 1990-an, membuat serangan cyber ini merupakan yang tertua. Hingga pada saat sekarang ini, phising masih menjadi salah satu teknik cyberattack yang paling merusak, terutama dengan metode eksekusinya yang menjadi semakin canggih.

Secara umum, kegiatan ini dilakukan untuk mencuri data-data login akun serta nomor seri kartu kredit seorang user. Untuk membuka email, media sosial, atau pesan teks di device seorang user, penipu menyamar sebagai seorang individu dari badan terpercaya dan meraih akses. Kemudian, korban akan termanipulasi untuk mengklik sebuah link berbahaya.

Link tersebut mengarahkan mereka kepada pemasangan malware, pembekuan sistem sebagai bagian dari serangan ransomware, atau pengungkapan informasi pribadi. Sebuah serangan phishing bisa berdampak buruk bagi korban. Untuk seorang user awam, kerugian ini termasuk pembelian item secara tidak sah, pencurian dana, atau pencurian identifikasi.

Di samping itu, jenis cyberattack ini sering kali digunakan untuk mendapatkan akses di dalam jaringan milik perusahaan atau instansi pemerintah. Peristiwa ancaman tingkat tinggi atau advanced persistent threat (APT) merupakan aktivitas tingkat lanjut yang biasanya dilakukan sebagai bagian dari serangan cyber yang lebih besar.

Dalam skenario itulah untuk melewati batas keamanan, jaringan milik karyawan disusupi para penyerang, di mana mereka akan mendistribusikan malware di dalam lingkungan tertutup. Selain itu, mereka juga bisa bisa mendapatkan akses khusus ke data-data yang diamankan. Tentu akan ada kerugian finansial yang kemudian muncul apabila suatu organisasi menyerah pada serangan semacam ini. 

Kerugian itu seperti penurunan pangsa pasar, reputasi yang tercoreng, hingga hilangnya kepercayaan konsumen. Phishing dapat meningkat menjadi insiden besar yang akan membuat sebuah bisnis kesulitan untuk kembali pulih, tergantung pada ukuran data yang hilang atau terbongkar.

Jenis-Jenis Phishing

Pada saat tertentu, penyerang bisa mengirim email ke seseorang yang memegang peran tertentu dalam sebuah organisasi, meskipun mereka sebelumnya tidak memiliki informasi apa pun tentang korban. Oleh karenanya, phishing tak hanya membobol cybersecurity milik pribadi atau perusahaan.

Baca Juga: 3 Hal Penting dalam UU Ketenagakerjaan, Hak dan Kewajiban bagi Pekerja

Jenis cyber attack tersebut juga bisa menyerang sistem penampung informasi lainnya tergantung kebutuhan para penyerang. Secara general, terdapat dua jenis phishing yang sering digunakan para penyerang. Berikut adalah penjelasannya.

1. Spear Phishing

Dikutip dari CS Online, jenis serangan ini adalah saat di mana penyerang mencoba menyusun sebuah pesan khusus untuk menarik individu tertentu. Pada awalnya, istilah ini dibentuk dari sebuah analogi seorang nelayan yang sedang membidik satu ikan tertentu dan bukan melemparkan kail berumpan ke dalam air untuk melihat siapa yang menjadi korban.

Untuk mengidentifikasi target , penipu biasanya menggunakan informasi di media sosial dan menggunakan alamat email palsu untuk mengirimkan pesan yang terlihat dari rekan kerja mereka. Contohnya, spear phisher dapat mengincar data dari staf departemen keuangan dan berpura-pura menjadi manajer korban yang meminta transfer bank dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat.

2. Whaling

Jenis serangan ini merupakan manifestasi dari spear phishing yang ditujukan untuk korban dengan jabatan yang sangat besar, seperti CEO atau target bernilai tinggi lainnya. Anggota dewan perusahaan seringkali menjadi target dari penipuan ini. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai banyak otoritas atas data-data dan informasi yang penting. 

Kemudian, mereka sering menggunakan alamat email pribadi untuk korespondensi terkait urusan bisnis. Hal ini dikarenakan target yang diincar bukanlah seorang karyawan tetap. Email pribadi tidak memiliki sistem perlindungan yang baik, berbeda dengan struktur email perusahaan. Dengan demikian serangan dinilai lebih mudah untuk tembus.

Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk mengumpulkan informasi yang cukup untuk mengelabui target whaling akan. Meski begitu, kerugian yang terbentuk karena serangan tersebut nyatanya sangat tinggi. Penjahat dunia maya menargetkan para CEO perusahaan besar dengan email yang mengklaim bahwa mereka memiliki surat panggilan pengadilan FBI di tahun 2018. 

Kemudian, mereka men-download keylogger ke komputer para eksekutif dan tingkat keberhasilan penyerang mencapai 10%, di mana mereka merenggut hampir 2.000 korban.

Cara Mengatasi Phishing

Tentu setiap problem pasti ada jalan keluarnya. Demikian pula phishing yang terlihat sangat berbahaya dan tidak dapat dibendung, ternyata masih ada beberapa langkah preventif yang efektif untuk mengatasinya. Agar data tidak tersentuh oleh para phiser, berikut adalah beberapa langkahnya yang perlu kamu ikuti:

-Jangan meng-klik link yang mencurigakan.

-Instal toolbar anti-phishing.

-Verifikasi terlebih dahulu keamanan sebuah situs.

-Periksa akun online-mu secara teratur.

-Jangan pernah memberikan informasi pribadi kepada siapa pun.

-Terus up-to-date terkait informasi phishing.

-Update browser pilihanmu secara rutin.

-Instal aplikasi firewall pada device.

-Gunakan software antivirus.

-Tetap waspada terhadap iklan-iklan pop-up.

Itulah pemaparan Jobnas.com tentang phishing lengkap dengan cara-cara mengatasinya Kamu perlu ingat bahwa phishing merupakan aktivitas cyber attack berbentuk manipulasi psikis yang dapat mengancam keamanan datamu.

Baca Juga: Yuk, Ketahui Jenis-jenis Hoax, Tips Menghidari Hoax, dan Dampaknya pada Karier

 Jangan takut meskipun para phiser melakukan serang dalam skala besar, sebab ada beberapa cara efisien yang bisa diterapkan untuk menghindari serangan tersebut.

Ghufron Writer
1 minggu yang lalu
0

Jobnas.com-Banyak para recruiter menggunakan teknik behavioral interview ketika wawancara. Bagi para fresh graduate, sebaiknya harus memahami terlebih dahulu apa saja jenis wawacara kerja. Dalam konteks ini, behavioral interview merupakan salah satu jenis wawancara yang sangat populer. Dengan demikian, kamu harus memahami terlebih dahulu jenis wawancara semacam ini. Berikut ini Jobnas.com akan menjelaskan hal itu semua untuk kamu. Yuk, baca selengkapnya !

Pengertian Behavioral Interview

Dikutip dari The Balance Careers behavioral interview merupakan teknik wawancara yang meminta kandidat memberikan contoh bagaimana cara mereka menangani situasi terkait pekerjaan.

Kandidat mesti memberikan contoh yang spesifik dari pengalaman masa lalunya, saat melakukan behavioral interview. Pengalaman itu bisa dari saat bekerja di tempat yang sebelumnya. Akan tetapi, apabila belum pernah bekerja, bisa mendeskripsikan pengalamannya saat di bangku perkuliahan.

Baca Juga: 3 Hal Penting dalam UU Ketenagakerjaan, Hak dan Kewajiban bagi Pekerja

Pasalnya pengalaman yang pernah dilakukan di masa lalu merupakan hal yang ditonjolkan dari behavioral interview. Dari sinilah recruiter umumnya tidak akan menanyakan pertanyaan seperti “Apa yang akan Anda lakukan apabila bekerja di bawah tekanan?”. Justru mereka akan menanyakan seperti “Jelaskan apa yang dulu Anda lakukan saat harus bekerja di bawah tekanan?”

Banyak recruiter mengira bahwa mengimplementasikan behavioral interview akan meningkatkan peluang untuk menjaring kandidat yang terbaik. Hal ini disebabkan karena dari jawaban kandidat akan diketahui bagaimana kinerjanya di masa lalu.

Contoh Pertanyaan

Ada berbagai macam variasi pertanyaan yang dilakukan oleh recruiter saat melakukan behavioral interview. Akan tetapi, secara umum ada beberapa pertanyaan yang seringkali muncul. Seperti dikutip dari The Muse dan Career Match berikut ini merupakan pertanyaan-pertanyaan itu: 

-Teamwork

Salah satu hal yang perlu diingat bahwa behavioral interview adalah jenis wawancara yang mengharuskanmu bercerita tentang pengalaman yang dulu pernah dilakukan. Oleh karena itu, saat mendapatkan pertanyaan seputar teamwork, alangkah lebih baik jika menceritakan pengalamanmu saat menghadapi kendala ketika bekerja dengan anggota tim.

  1. Ceritakan pengalamanmu saat bekerja sama dengan seseorang yang kepribadiannya sangat berbeda denganmu?
  2. Berikan contoh saat Anda menghadapi konflik ketika bekerja dalam tim. Bagaimana cara Anda mengatasinya?

-Kemampuan Beradaptasi

Recruiter biasanya mencari kemampuan beradaptasi dari seorang kandidat. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pasti sering ditanyakan.

  1. Deskripsikan situasi saat tim atau perusahaan yang kamu tempati harus mengalami beberapa perubahan. Apakah hal itu mempengaruhi Anda dan apa yang dilakukan untuk beradaptasi?
  2. Ceritakan tentang pekerjaan pertama Anda. Apa yang Anda lakukan untuk mempelajari tugas yang diberikan?

Time Management

Time management merupakan pertanyaan selanjutnya yang sering ditanyakan saat sedang melakukan behavioral interview. Kamu perlu mengingat contoh-contoh pertanyaan di bawah ini. 

  1. Jelaskan mengenai proyek jangka panjang yang pernah Anda lakukan. Bagaimana upaya Anda untuk menjaga agar semuanya berjalan tepat waktu?
  2. Berikan contoh saat Anda sedang mengelola banyak tanggung jawab pekerjaan. Bagaimana cara Anda mengatasinya?

-Kemampuan problem solving

Biasanya recruiter ingin tahu bagaimana cara kandidat saat sedang menghadapi masalah saat mengajukan pertanyaan terkait problem solving. Jadi, recruiter juga akan tahu apakah kandidat tersebut memiliki skill pendukung lain seperti kemampuan analisis hingga komunikasi.

  1. Beri saya contoh saat Anda menghadapi suatu tantangan yang tidak terduga. Bagaimana cara mengatasinya ?
  2. Deskripsikan pengalaman Anda saat menghadapi klien yang rumit dan sulit diajak berkomunikasi.

-Work Ethic

Recruiter akan tertarik apabila seorang kandidat yang memiliki work ethic atau etos kerja yang baik. Dengan demikian, pertanyaan seperti di bawah ini harus kamu pelajari baik-baik saat sedang melakukan behavioral interview.

  1. Ceritakan apa pencapaian terbesar Anda selama ini?
  2. Jelaskan mengenai hal yang paling membuat Anda tidak enak atau sulit dikerjakan saat bekerja di kantor yang sebelumnya?

Tips Melakukan Behavioral Interview

Behavioral interview adalah merupakan teknik wawancara yang berfokus pada cerita empiris atau pengalaman kandidat secara spesifik saat menghadapi situasi tertentu di masa lalu. Hal tersebut, bukan berarti kamu hanya perlu mengingat-ingat apa saja hal yang pernah kamu lakukan di waktu yang lampau. Kamu juga perlu melakukan riset mengenai perusahaan dan profesi yang sedang kamu lamar. Di samping itu, dikutip dari Indeed ada beberapa tips yang perlu kamu ikuti sebagai berikut:

-Jujur saat menjawab semua pertanyaan dari recruiter.

-Catat apa saja proyek besar yang pernah kamu lakukan.

-Buat daftar apa saja pencapaian terbesarmu selama ini.

-Menggunakan Metode Star saat menjawab pertanyaan dari recruiter.

-Tinjau lagi kinerjamu di perusahaan sebelumnya.

-Pelajari pekerjaan yang akan dilamar terlebih dahulu.

Baca Juga: Yuk, Ketahui Jenis-jenis Hoax, Tips Menghidari Hoax, dan Dampaknya pada Karier

Demikianlah deskripsi Jobnas.com ihwal behavioral interview mulai dari pengertian, contoh pertanyaan, hingga tips menjawabnya. Hal yang perlu kamu ingat adalah behavioral interview merupakan jenis wawancara yang membutuhkan persiapan khusus agar bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Oleh karena itu, kamu juga perlu mengatu komunikasi dengan baik supaya recruiter dapat mudah memahami setiap perkataanmu, selain harus menyiapkan mental.

Ghufron Writer
2 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Jika kamu merupakan seorang yang memiliki ide-ide cemerlang dan keinginan untuk menghadirkan inovasi, barangkali pekerjaan yang tepat bagi kamu adalah menjadi seorang Entrepreneur. Sebab, seringkali entrepreneur dianggap sebagai  seseorang yang berada di posisi tertinggi sebuah bisnis, bisa mengatur banyak hal sekaligus, dan memiliki pendapatan yang tinggi.

Lantas, apa sih sebenarnya hakikat dari entrepreneur itu? Nah, di artikel ini Jobnas.com akan mengupas tuntas mengenai entrepreneur, karakteristik, beserta berbagai macam tipenya. Yuk, simak sampai  tuntas !

Pengertian Entrepreneur

Sangat jarang orang yang mengerti arti sesungguhnya dari sebuah entrepreneur meski istilah ini cukup umum di kalangan masyarakat. Lantas, apakah seorang chief executive officer (CEO) dapat disebut sebagai entrepreneur? Apakah pendiri bisnis UMKM juga dapat disebut sebagai entrepreneur? 

Baca Juga: Optimalkan Local SEO, Agar Kamu Menguasai Bisnis di Area Lokal

Dikutip dari The Balance Small Business, secara definitif entrepreneur merupakan seseorang yang mengembangkan perusahaan dengan berbagai inovasi. Mereka mengelola bisnis sekaligus menanggung risiko kesuksesannya.

Risiko tersebut didapat karena entrepreneur sendirilah yang mengambil keputusan-keputusan besar. Dengan risiko besar tersebut, tak ayal apabila entrepreneur biasanya mendapat keuntungan yang paling besar dari bisnisnya.

Jika kamu menjadi seorang entrepreneur, kamu tidak hanya bekerja untuk dirimu sendiri.  Inilah salah satu hal menarik dari seorang entrepreneur. Di sisi lain, kamu juga berpeluang memperluas lapangan kerja.

Hal ini bisa terjadi karena kamu membutuhkan orang lain untuk menjalankan bisnismu. Dengan begitu, orang lain bisa mendapat pekerjaan dari bisnismu. Meski demikian, menurut Tempo, rasio entrepreneur di Indonesia baru 2% dari total penduduk pada 2019. 

Padahal menurut Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi ITS Hal Udisubakti Ciptomulyono, jika rasio entrepreneur Indonesia mencapai 4%, pertumbuhan ekonomi nasional dapat turut terdorong. Jadi, apakah pendiri bisnis UMKM juga dapat disebut sebagai entrepreneur? Ya, tentu saja!

Tipe-tipe Entrepreneur

Setiap entrepreneur tidak dapat disamakan. Untuk mencapai sebuah tujuan, mereka mempunyai motivasi, prinsip, dan caranya masing-masing. Dikutip dari BusinessTown, terdapat empat tipe entrepreneur yang seringkali dijumpai. Tipe-tipe entrepreneur tersebut adalah sebagai berikut. 

1. The world changer

Dalam bahasa Indonesia, The world changer berarti pengubah dunia. Seorang entrepreneur dengan tipe ini membangun bisnis untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Mereka percaya bahwa bisnisnya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Mereka memahami konsep masyarakat, keseimbangan, dan empati. Di samping itu, mereka juga tidak terlalu peduli dengan kariernya sendiri. Mereka lebih fokus pada apa yang bisa diberikan kepada masyarakat. Contoh dari the world changer adalah sociopreneur. Mereka menggabungkan ide bisnis dengan isu sosial.

2. The Survivor

Jika kamu pernah mendengar sebuah narasi ihwal seorang karyawan yang resign dari kantornya demi membangun bisnis, itu namanya adalah entrepreneur tipe the survivor.  Mereka merasa jenuh dan tidak cocok dengan pekerjaan 9 to 5. Mereka bisa saja pernah mendapat pengalaman buruk ketika bekerja di sebuah perusahaan.

Dengan demikian, the survivor ingin membangun bisnis dan sistemnya sendiri. Mereka ingin bebas dan mencapai financial freedom-nya.

3. The Visionary

Entrepreneur dengan tipe the visionary adalah seseorang yang selalu memiliki ide-ide inovatif. Mereka mampu berpikir out of the box untuk menciptakan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh orang lain. 

Baca Juga: Antara Bullet Journalling atau Digital Journalling, Tentukan Pilihanmu!

The visionary tidak hanya fokus pada permasalahan saat ini. Lebih dari itu, mereka juga berharap bisnisnya dapat bertahan di masa depan.

Steve Jobs merupakan salah satu entrepreneur tipe the visionary ini. Ia mendirikan Apple pada 1976. Tetapi, kini Apple tetap menjadi perusahaan raksasa di bidang teknologi.

4. The Strategist

Ahli di bidang bisnis tidak semua menjadi tipe entrepreneur.  Tidak jarang yang sebenarnya hanya melihat sebuah bisnis sebagai peluang. Meski demikian, mereka tidak benar-benar paham di bidang tersebut.

Nah, entrepreneur dengan tipe the strategist adalah orang yang sangat paham dengan bidang bisnisnya. Mereka tahu semua detail tentang bidang tersebut.

Dengan demikian, segala keputusan yang mereka ambil fokus pada bidang yang sedang dijalaninya. Mereka memiliki perencanaan, strategi, dan analisis yang mendalam. Misalnya, kamu punya pengetahuan yang mendalam tentang dunia kesehatan. Maka, kamu bisa membangun bisnis atau startup di bidang kesehatan.

Karakteristik Entrepreneur

Terdapat banyak karakteristik yang umumnya dimiliki oleh seorang entrepreneur. Karakteristik-karakteristik tersebut bisa membawa entrepreneur pada sebuah kesuksesan. Nah, karakteristik-karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 

1. Optimis

Seorang entrepreneur harus berani bermimpi dan percaya bahwa mimpi tersebut akan terwujud.  Jadi, seorang entrepreneur harus selalu optimis bahwa bisnisnya akan berhasil, meskipun terdapat berbagai tantangan yang mesti dilalui. 

2. Fokus sama Tujuan

Sebuah bisnis pada umumnya mempunyai tujuan tertentu yang sudah ditetapkan sejak awal. Tujuan tersebut sudah disepakati oleh semua pihak yang ada dalam perusahaan tersebut. Nah, sebagai entrepreneur, kamu harus fokus pada tujuan tersebut. Jangan sampai kamu mudah terdistraksi untuk menjalankan hal-hal lain di luar tujuan tersebut.

3. Problem Solver

Tentu sulit untuk menjadi seorang entrepreneur. Sebab, kamu akan menemukan berbagai macam problem yang tak terduga.  Dengan demikian, kamu harus mampu menganalisis dan menyelesaikan setiap masalah yang ada.

4. Berani ambil risiko

Entrepreneur adalah pekerjaan yang penuh dengan risiko. Bukan entrepreneur namanya kalau ingin bekerja dengan aman dan nyaman. Agar supaya dapat bersaing dengan para kompetitor, kamu harus berani mengambil resiko. 

5. Berpikir Terbuka

Kamu tetap perlu berpikiran terbuka, meskipun harus fokus pada tujuan. Sebab, kamu perlu terus berpikir kritis dan rasional. 

Baca Juga: Perbedaan Aplikasi Native, Hybrid, dan Web yang Perlu Kamu Ketahui

Itulah penjelasan Jobnas.com tentang entrepreneur. Hal yang tak boleh dilupakan adalah entrepreneur adalah seseorang yang mengembangkan perusahaan dengan berbagai inovasi dan siap menanggung risikonya.

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Setiap mantan pegawai memiliki hak untuk meminta Surat Rekomendasi dari perusahaan. Untuk mendapatkannya, kamu bisa memintanya kepada bagian HRD atau atasan yang mengenal kinerjamu.

Surat rekomendasi berisi penjelasan kinerja seseorang dan juga periode masa kerjanya. Di samping itu, umumnya perusahaan akan menuliskan rekomendasinya untuk perusahaan berikutnya yang akan menerima kamu sebagai calon pegawai.

Sebaiknya, kamu tetap perlu menjaga etika saat memintanya, meskipun memang menjadi hak semua pegawai.

Lantas, bagaimana cara meminta surat rekomendasi tanpa terlihat memaksa dan menekan? Ikuti langkah-langkah dari Jobnas.com berikut ini. 

Siapa Saja yang Boleh Menulis Surat Rekomendasi?

Menurut The Balance Careers, terdapat dua tipe yang bisa kamu mintai surat rekomendasi yaitu personal references dan professional references.

Professional references umumnya sudah memiliki template yang sama ketika dimintai surat rekomendasi, sehingga hasilnya akan sama satu sama lain.

Professional references merupakan seseorang yang bertugas atau berwenang dalam menerbitkan surat rekomendasi atau surat-surat formal lainnya.

Tidak ada keistimewaan yang sesuai dengan kinerja atau pekerjaan yang sudah kamu kerjakan secara spesifik merupakan kekurangan untuk meminta surat kepada professional references.

Beda halnya dengan personal references.  Mereka adalah seseorang yang pernah bekerja bersamamu secara langsung. Dapat dikatakan bahwa personal reference merupakan orang yang dipilih secara langsung oleh kamu untuk menulis surat rekomendasi. 

Personal references bisa jadi adalah rekan, manager, mentor, atau siapapun yang kamu anggap kredibel serta tahu semua kinerjamu.

Salah satu keunggulan surat rekomendasi dari personal references adalah kamu akan mendapatkan surat referensi yang baik dan juga lengkap dengan penjelasan apa yang sudah kamu kerjakan selama ini.

Bisa dibilang surat rekomendasi dari personal references akan terbaca secara personal bukan hanya sekadar formalitas.

Tips Minta Surat Rekomendasi

Surat rekomendasi sebenarnya masih menjadi hak kamu, meskipun statusnya kamu sudah menjadi eks pegawai. Akan tetapi, agar tidak terlihat memaksa bahkan menekan, kamu harus memintanya secara sopan. 

Baca Juga: Dengan Mengetahui Peran Staf Pajak, Kamu akan Jadi Incaran Banyak Perusahaan

Jangan sampai perusahaan atau orang yang kamu tunjuk untuk menulis surat rekomendasi pada akhirnya menolak akibat kesalahan kecil. Lantas, bagaimana sih cara yang profesional untuk meminta surat rekomendasi ? Simak langkah-langkahnya berikut ini: 

1. Tanyakan baik-baik

Menurut Monster, biasanya kita dihadapkan dalam keadaan yang canggung saat meminta surat rekomendasi. Terlebih apabila kamu harus menanyakan surat rekomendasi ke atasan yang tidak terlalu akrab.

Sebaiknya, tanyakan saja secara langsung daripada kamu meminta maaf secara tiba-tiba atau melakukan gestur yang aneh. Kamu juga bisa to-the-point tujuan dari surat rekomendasi yang kamu minta beserta deadlinenya (jika diperlukan).

Contoh:

Selamat Siang/Siang, Pak/Bu, saya mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan W dan membutuhkan surat rekomendasi dari perusahaan U sebagai bukti saya pernah bekerja di sana serta ingin mengetahui kinerja saya.

Apakah Ibu/Bapak bersedia untuk menulis surat rekomedasi untuk saya? Saya membutuhkannya paling lambat tanggal xx. Terima kasih.

2. Memberikan poin-poin penting untuk ditulis

Dalam menulis surat rekomendasi, beberapa orang masih kurang berpengalaman. Kadang mereka tidak tahu apa saja isi dari surat rekomendasi atau bahkan tidak mengetahui kinerjamu secara rinci.

Oleh karena itu, kamu diperbolehkan untuk memberikan poin-poin yang sekiranya ingin di-highlight dalam surat rekomendasimu.

Dengan memberikan poin penting seperti pekerjaan spesifik yang sudah dilakukan sebelumnya akan mempermudah kamu saat melamar pekerjaan yang sama di tempat lain. Hal ini bisa termasuk portofolio atau skill yang berkaitan dengan pekerjaan yang kamu lamar.

Contoh:

Terima kasih telah menyetujui untuk menuliskan surat rekomendasi untuk saya. Bolehkah jika tidak keberatan untuk menuliskan bahwa saya telah menjadi bagian dari campaign xx pada tanggal xx?

Selain itu, saya juga meminta izin untuk menggambarkan bagaimana kinerja saya dalam menaikkan jumlah traffic dalam blog xx selama 10  bulan lalu. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

3. Persiapkan diri untuk menulis sendiri

Tentu memang tidak bisa ditebak peluang untuk minta surat rekomendasi. Bisa ditolak, diterima, atau malah ada perusahaan yang meminta pegawainya menulisnya sendiri. Sebaiknya kamu harus memanfaatkan sebaik-baiknya jika hal tersebut terjadi karena ini merupakan peluang yang baik. 

Hal ini kemungkinan besar terjadi jika kamu sangat dekat dengan bagian HR, Direktur Utama, atau bagian-bagian yang berwenang. Kemungkinan kedua, bisa saja mereka sibuk dan tidak sempat untuk menuliskannya untukmu.

Mereka hanya menawarkan untuk review serta menandatangani surat rekomendasi untuk mempersingkat waktu.

Contoh:

Saya mengerti jika Ibu/Bapak tidak memiliki waktu untuk menuliskan surat rekomendasi ini. Jika Ibu/Bapak tidak keberatan, bolehkah saya menulisnya dan mengirimkannya untuk di-review dan ditanda-tangani?

Baca Juga: Tingkatkan Popularitas Situsmu dengan Guest Blogging, Strategi Menulis di Situs Lain

Demikianlah penjelasan Jobnas.com terkait cara meminta surat rekomendasi ke perusahaan. Meski kelihatannya memang mudah dalam meminta surat rekomendasi ini. Namun, nyatanya banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Oleh karena itu, kamu juga dapat mencoba terlebih dahulu langkah-langkah di atas. Intinya, meminta surat ini harus tetap sopan dan beretika, ya!

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Apabila kamu sedang merasa gelisah dan bosan saat harus bekerja dari rumah, barangkali kamu sedang mengalami masalah Cabin Fever. Jadi, Cabin Fever merupakan salah satu problem yang kerap kali mengancam para pekerja di saat WFH, lho. 

Lantas, apa sih sebenaranya Cabin Fever itu? Mengapa masalah semacam ini mesti terjadi ? Di artikel ini Jobnas.com akan menguraikannya untuk mu. Yuk, simak sampai tuntas !

Apa itu Cabin Fever ?

Menurut Healthline, secara definitif cabin fever adalah perasaan-perasaan yang muncul yang diakibatkan karena terlalu lama berada di suatu tempat terisolasi, karena hal-hal tertentu.

Bisa jadi, seseorang dapat mengalami perasaan-perasaan negatif seperti gelisah, sedih, hingga bosan karena berada di rumah terlalu lama

Istilah ini sebelumnya dikaitkan dengan orang-orang yang terkurung di rumah akibat musim dingin membatasi aktivitas di luar rumah. Seperti dilansir dari Kompas,  merasa terputus dari “dunia luar” juga bisa menyebabkan munculnya cabin fever.

Baca Juga: Sender Reputation, Sebuah Gambaran atas Kualitas di Mata Pelanggan

Ciri-ciri Mengalami Cabin Fever

1. Pola tidur tak teratur

Pola tidurmu semakin tidak teratur menjadi salah satu ciri kamu sedang mengalami cabin fever. Kamu akan semakin sulit untuk tidur di malam hari, dan semakin sulit untuk bangun di pagi hari. Bahkan, karena merasa lelah, kamu bisa tertidur di tengah hari. Barangkali kamu sedang mengalami Cabin Fever apabila kamu mengalami ciri-ciri semacam itu. 

2. Sulit Fokus

Pandemi Covid-19 berdampak pada segala hal, dari tata kehidupan, hingga mata pencarian. Berbagai berita yang muncul di media pun sebagian besar adalah berita buruk yang semakin berdampak pada kesehatanmu. 

Kamu pun juga dituntut untuk dapat bekerja dengan baik. Hal ini tentu menjadi beban pikiran tersendiri untuk seseorang sehingga tak heran jika mereka menjadi sulit fokus. Mereka akan selalu terbebani dengan pikiran yang muncul akibat pemberitaan tersebut. 

3. Mudah Lupa

Sering lupa menjadi ciri berikutnya yang muncul apabila kamu mengalami cabin fever. Hal ini disebabkan karena kecemasan dapat mempengaruhi memori. Menurut Calm Clinic, hal ini dikarenakan diproduksinya hormon stres yang mengakibatkan sulit mengingat hal-hal tertentu.

Baca Juga: Cek Kartu BPJS Kesehatan Aktif Atau Tidak

Selanjutnya, berhubungan dengan poin sebelumnya yaitu sulit fokus, ini juga membuatmu jadi lupa akan sesuatu. Pikiranmu menjadi terdistraksi dan sulit mengingat suatu peristiwa, perkataan, dan sebagainya.

4. Emosional

Kamu menjadi lebih emosional menjadi ciri lain kamu sedang mengalami cabin fever. Karena minimnya interaksi, kamu jadi memiliki ekspektasi lebih terhadap sesuatu. Hal inilah yang membuatmu dapat menjadi lebih emosional bahkan mudah tersinggung.

Hal yang Bisa Kamu Lakukan

1. Ke Luar Rumah

‘Ke luar’ rumah menjadi cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk menanggulangi cabin fever. Memang, pandemi menuntut kita untuk tetap di rumah agar penyebarannya dapat berkurang.

Dengan kata lain, maksud dari ke luar rumah di sini bukanlah untuk liburan ke objek wisata atau sejenisnya, namun kamu bisa dengan bersantai di teras rumah, bermain di kebun, dan sebagainya.

Bahkan, merawat tanaman juga termasuk salah satu yang disarankan agar kamu bisa merasakan interaksi dengan ‘dunia luar’. 

2. Miliki Rutinitas

Berikutnya, kamu dapat menjalankan suatu rutinitas baru yang selama ini belum sempat kamu lakukan.Nah, kamu pun bisa memanfaatkan waktu yang biasanya kamu luangkan untuk perjalanan ke kantor dan pulang, lho.  Misalnya, setelah bangun pagi kamu dapat berolahraga sejenak, menulis diari atau jurnal, dan sebagainya. 

3. Jaga Hubungan Sosial

Sebagai makhluk sosial, kamu perlu untuk menjaga hubungan sosial agar tidak merasakan jenuh dan cemas kala di rumah saja. Apabila biasanya kamu dapat bertemu dengan teman di suatu tempat, kali ini kamu dapat melakukannya secara virtual, lho. Tak ada salahnya bertelepon atau video call dengan teman lama di luar jam kantor agar interaksi sosial tetap terjaga.

4. Nikmati ‘me time’

Selanjutnya, ‘me time’ menjadi hal yang perlu kamu lakukan. Bisa dibilang me time ini adalah waktu untuk memberikan dirimu kebebasan dari apapun. Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menikmati me time, mulai dari mematikan notifikasi handphone, membaca buku, atau bahkan bisa menjalankan hobi lainnya.  Hal ini tentu saja dapat membuat perasaan negatif yang kamu rasakan menjadi sedikit terkurangi.

Baca Juga: Agar Kamu Tidak Stres, Ini Dia 5 Tips Menghadapi Atasan Gila Kerja

Nah, demikianlah penjelasan Jobnas.com mengenai beberapa ha tentang cabin fever. Apabila kamu tertarik dengan informasi serupa, kamu bisa membaca artikel Jobnas.com lainnya, lho.

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Di saat Pandemi melanda, tentu saja ada banyak perubahan yang mempengaruhimu. Perubahan-perubahan itu barangkali bisa menganggu produktivitasmu meskipun sesudah pandemi.  Jika tidak Produktif, kamu akan mulai mengalami berbagai masalah kesehatan fisik dan mental. Hal itu tentunya akan menghambat pekerjaan dan keseharianmu

Baca Juga: S&K dan Pricelist Iklan Jobnas

Seorang managing director dari Indika Foundation,  Ayu Kartika Dewi, mengatakan bahwa melakukan kegiatan yang produktif pasca pandemi dapat menjadi tantangan tersendiri.

Lantas, bagaimana sih cara agar kita bisa tetap produktif meski pandemi telah berlalu ? Nah, di artikel ini Jobnas.com akan menguraikan itu semua untukmu. Yuk, simak sampai tuntas !

Pentingnya Produktivitas Pasca Pandemi 

Menurut Ayu, produktif merupakan bekal yang harus ditumbuhkan untuk menghasilkan sesuatu. Ketika terjadi sebuah perubahan, pasti menjadi menantang, karena manusia itu adalah creature of habits.

Dari situlah perlu tips dan trik khusus pandemi untuk tetap produktif di masa setelah pandemi ini. Tips dan trik ini tentunya dapat berbeda sesuai dengan kepribadianmu, baik introvert ataupun extrovert.

Baca Juga: Sering Dianggap Mirip, Ternyata E-Commerce & Marketplace Berbeda, Begini Ulasannya!

Seorang extrovert akan mendapatkan energi ketika bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan introvert justru akan terkuras energinya bila bertemu dengan banyak orang. Yang menjadi problem adalah bahwa kita semua tahu manusia merupakan makhluk sosial. Secara naluriah, kita itu menginginkan hubungan dengan orang lain dengan baik.

Setidaknya, perlu perubahan untuk dapat membantu kita menjadi lebih produktif. Perubahan itu  dimulai dengan menyadari bahwa apa biasa kamu lakukan tidak berjalan dengan semestinya. Ayu mencontohkannya dengan mengerahkan pekerja yang biasanya membantu membersihkan rumahnya untuk membantu membelikan bahan-bahan makanan.

Dengan demikian, meski pendapatannya berkurang, ia masih memiliki punya cara lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dengan cara itu, ia menemukan cara agar pekerja yang ia kenal tetap produktif saat pandemi.

Di titik inilah penting kiranya mengubah strategi agar tetap bisa survive pasca pandemi. Jika tidak, kamu akan mengalami stres. Nah, bagaimana cara mengatasinya jika hal ini terjadi?

Cara Mengatasi Stress Pasca Pandemi

Ayu menggunakan filosofi ember untuk mengatasi rasa stress di saat pasca pandemi. Anggaplah kapasitas pikiranmu sebagai ember. Semua masalah yang terjadi adalah air yang dimasukan ke dalam ember.

Ketika kamu merasa embermu penuh dengan masalah, air di dalam ember tersebut akan luber. Penting untuk kita memiliki cara untuk menerapkan batasan. Seperti, ada teman di kantor yang ingin curhat. Kamu harus berani bilang tidak. Bilang bahwa kamu sedang tidak memiliki kapasitas untuk mendengarkan curhatnya.

Setiap harinya, kamu akan berhadapan dengan stres. Untuk mengatasinya, Ayu menyarankan untuk membuat sebuah matriks. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan membuat kuadran yang meliputi hal-hal yang paling membuat stres, hal-hal yang tidak begitu membuat stres, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, dan hal-hal yang bisa dikontrol. Buatlah sebuah peta tentang hal-hal ini.

Kemudian, kamu harus  memperhatikan hal-hal yang paling membuat stres dan hal-hal yang bisa dikontrol. Fokuskan pada dua kategori ini saja. Cobalah berdamai dengan hal-hal yang membuatmu stres namun tidak bisa dikontrol. Sementara untuk hal-hal yang tidak terlalu membuatmu stres, dapat kamu lupakan perlahan-lahan.

Baca Juga: Antara Bullet Journalling atau Digital Journalling, Tentukan Pilihanmu!

Dengan menggunakan cara ini, ember yang berisikan masalah tadi akan semakin lama semakin berkurang airnya. Jika kamu mengalami stres, ambillah pena dan kertas, dan tulis hal-hal tersebut.

Demikianlah cara yang dapat kamu lakukan agar supaya tetap produktif pada saat pasca pandemi. Hal-hal yang dianggap bermanfaat mesti kamu lakukan, baik itu berupa hobi atau bahkan kamu bisa mempelajari sesuatu yang baru. 

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Jika kamu pernah sesekali mendengar tentang suatu brand yang diboikot, masalah yang tepat untuk menggambarkan ini adalah krisis PR alias PR Crisis. Tentu kamu akan penasaran terkait bagaimana perusahaan di kemudian hari menyikapi problem semacam ini serta apa saja hal-hal yang dapat mereka upayakan apabila mengalaminya. 

Nah, jawabannya ada di artikel Jobnas.com berikut ini. Yuk, simak selengkapnya!

Pengertian Krisis PR

Sebelum kita lebih jauh membahas tentang krisis PR, kita harus mengetahui terlebih dahulu terkait dengan pengertian krisis yang satu ini. Menurut Pushkin PR, PR crisis adalah:

-apa pun yang bisa menghilangkan kepercayaan atas perusahaan

-apa pun yang bisa menodai reputasi perusahaan

-risiko atas kesehatan, keamanan, atau ancaman lain dari klien, pekerja, atau stakeholder perusahaan

Tentu saja, tak semua isu harus disebut sebuah krisis. Seperti dilansir dari Talkwalker, sebelum panik, pastikan dulu hal ini:

Apakah masalah ini memengaruhi alur kerja perusahaan?

Apakah masalah ini membuat petinggi perusahaan kebingungan?

Apakah pekerja lainnya merasa terganggu?

Apakah reputasi brand bisa rusak karena masalah ini?

Apabila memenuhi semuanya, barulah sebuah masalah disebut PR crisis. Kita ambil contoh, komentar kebencian di media sosial. Misalnya, terdapat review negatif atau post media sosial berupa ejekan. Memang, ini adalah sebuah gangguan. Akan tetapi, ia belum tentu sebuah krisis.

Baca Juga: Perhatikan 7 Hal Ini, Apabila Ingin Menulis Surat Rekomendasi Kerja untuk Temanmu

Jika komentar negatif tadi terus membesar, bahkan mengancam nama merek, barulah kamu bisa menyebutnya krisis. Jadi, kamu mesti menghindari kepanikan terlebih dahulu saat terjadi masalah. Di samping itu, pastikan dulu besar dari isu tersebut. Jika sudah, barulah tanggapi sesuai dengan porsinya.

Dampak Krisis PR bagi Perusahaan

Setelah kamu mengetahui tentang definisi dari istilah ini, berikutnya kamu harus memahami dampaknya bagi sebuah perusahaan. Menurut Inc, krisis inis bisa menurunkan atau memperlambat penjualan, menodai brand selama bertahun-tahun, hingga membuat perusahaan bangkrut.

Itulah mengapa, PR crisis menjadi salah isu yang tak bisa kamu sepelekan. Sebab, konsekuensinya sangatlah besar. Nah, apabila krisis ini terjadi, kamu tak boleh menunda-nunda pekerjaan. Pasalnya, dunia PR crisis juga mengindahkan semboyan ini, lho.

Sebaiknya, sebelum sebuah masalah benar-benar terjadi, kamu harus menyiapkan diri terlebih dahulu. Dengan demikian, kamu bisa dengan mudah melaluinya.

Menurut Digital Marketing World Forum, terdapat dua hal yang perlu kamu siapkan. Setelah itu, jika isu benar terjadi, ada tiga pekerjaan yang wajib dilakukan.

Poin-poin dalam PR crisis itu adalah:

1. Bentuk Tim Krisis

Membentuk tim komunikasi krisis menjadi langkah pertama yang harus kamu lakukan. Jangan lupa agar kamu mengisi tim itu dengan orang-orang yang beragam.

Dengan demikian, gagasan-gagasan mereka akan bermacam-macam. Semua itu sempurna di ambang krisis yang penuh ketidakpastian. Kemudian, jangan lupa, buat rencana komunikasi. Masukkan panduan menanggapi krisis PR di sana.  Apabila masalah benar-benar melanda, hal tersebut akan menjaga tim dari kebingungan.

2. Jaga Brand Reputation

Seperti yang sudah disebutkan tadi, tak semua orang mencintai merekmu. Pasti ada saja satu-dua orang yang melemparkan hal negatif tentangmu.

Nah, agar pendapat negatif ini tetap terkendali, kamu harus terus melakukan reputation management. Kamu bisa memantau media sosial, pers, situs review, influencer, kompetitor, dan lain-lain.

3. Katakan Sejujurnya

Apabila krisis benar-benar terjadi,banyak orang yang akan meminta klarifikasi dan penjelasan. Dalam situasi yang demikian, kamu wajib mengambil langkah yang tepat. Ingat, kamu sudah punya rencana komunikasi.

Terus ikuti panduan itu. Jangan lupa, katakanlah sejujurnya. Salah itu biasa, jangan malu untuk meminta maaf. Hindari sikap sibuk menyalahkan pihak lain, atau malah tak mau mengakui adanya isu tertentu. Itu malah bisa jadi bumerang di tengah masalah.

4. Kirim Pesan yang Faktual, Informatif, dan Jelas

Kamu bisa mengirimkan pesan-pesan ke publik berupa apabila krisis PR terjadi berupa:

-apa yang terjadi

-apa yang akan (atau sedang) kamu lakukan untuk menyelesaikannya

-apa yang kamu rencanakan di masa depan

Kemas semuanya dengan jelas dan informatif. Semakin cepat kamu meminta maaf dan menjelaskan, semakin besar kemungkinan brand-mu dimaafkan.

Baca Juga: Agar Keamanan Datamu Terjaga, Pahami Software Keylogger yang Sangat Berbahaya

5. Belajar Dari Krisis PR 

Tentu saja, jika terjadi krisis, ada masalah yang memicunya. Nah, kamu harus mempelajari semua itu agar masalah tak terulang kembali di masa depan.

Di samping itu, ingat, tak ada hal yang sempurna di dunia ini. Tanggapanmu atas PR crisis adalah salah satunya. Evaluasi proses tanggapanmu atas masalah. Siapa tahu, ada yang bisa diperbaiki dan diterapkan di hari esok.

Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati. Hal ini juga berlaku di dunia krisis PR. Oleh karena itu, kamu wajib menjaga reputasi perusahaan.

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Salah satu hal yang penting dilakukan setiap pekerja adalah mencari cara dan mengatasi burnout di tempat kerja. Burnout merupakan suatu kondisi mental yang kalau tidak dicegah akan sangat mengganggu setiap pekerja. 

Seorang psikolog cum penulis, Samanta Ananta, M.Psi, mengatakan bagaimana cara mengatasi burnout di tempat kerja. Lebih dari itu, ia juga mendeskripsikan bagaimana ciri-cirinya  serta cara mengatasinya ketika sedang work from home (WFH).

Perbedaan antara Stress dan Burnout

Sebelum kita lebih jauh mengetahui apa itu burnout, hal yang perlu kita pahami pertama kali adalah mengetahui perbedaan antara stress dan burnout. Masih menurut psikolog Samanta, ia menjelaskan bahwa stres lebih cenderung mengarah pada hal-hal umum. Hal itu berbeda dengan burnout yang sering kali dikaitkan dengan situasi pekerjaan. 

Baca Juga: Agar Keamanan Datamu Terjaga, Pahami Software Keylogger yang Sangat Berbahaya

Lebih dari itu, ia juga menjelaskan bahwa ciri-ciri orang yang mengalami burnout adalah merasa lelah secara terus-menerus, baik secara fisik maupun emosional. Ada juga ciri-ciri orang yang mengalami burnout mempunyai pandangan negatif terhadap pekerjaannya. Misalnya, baru mengetik sebentar di depan laptop langsung malas dan ada juga yang mengasingkan diri dari tugas-tugasnya.

Cara Mengatasi Burnout di Tempat Kerja

Tentu kamu semakin penasaran dong bagaimana sih sebenarnya mengatasi burnout di tempat kerja ? Hal yang harus kamu lakukan pertama kali adalah tidak mencampur urusan kantor dengan rumah.

Artinya, seseorang harus pandai dalam mengatur batasan antara kedua hal tersebut. Jadi, alangkah lebih baiknya selama di kantor tak perlu membawa urusan pribadi. Begitu juga saat di rumah, usahakan untuk tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

Di samping itu, ia juga menyarankan untuk berolahraga dalam mengatasi burnout. Sebab, olahraga adalah siasat yang paling mudah untuk membuat otak kita aktif serta tubuh menjadi sehat.

Psikolog Samanta juga memberikan perihal tips mengatasi burnout saat WFH. Ia menyarankan untuk bergabung ke komunitas sesuai dengan hobi atau minat seseorang secara virtual dan berbagi cerita di sana saat waktu luang.

Lebih lanjut lagi, ia juga menganjurkan untuk tetap mengkonsumsi makanan bergizi serta menjaga pola tidur secara teratur.  Sebab, kesehatan fisik dan kesehatan mental saling mempengaruhi satu sama lain. Agar supaya tubuh dan otak berfungsi dengan benar, seseorang harus makan makanan bergizi.

Baca Juga: Dengan Mengetahui Peran Staf Pajak, Kamu akan Jadi Incaran Banyak Perusahaan

Terakhir, Samanta juga memberikan saran bagaimana memberi dukungan kepada rekan kerja yang sedang mengalami burnout. Ia menyarankan untuk menghibur rekan kerja tersebut supaya tertawa dan bahagia. Bagi Samanta, terapi tertawa menjadi salah satu terapi yang gratis dan paling mudah untuk dilakukan. 

Nah, demikianlah penjelasan Jobnas.com mengenai cara mengatasi burnout di tempat kerja. Hal yang tak boleh dilupakan adalah kamu harus mencintai dirimu dengan  mengupayakan work-life balance yang baik. Jangan sampai, kita hanya cinta kerja saja, tetapi tidak cinta kepada diri sendiri. 

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Tentu kalian penasaran mengenai kepemimpinan yang dapat membangkitkan produktivitas para pekerja. Nah, untuk menuntaskan rasa penasaranmu, kamu perlu mengetahui Gaya Manajemen kepemimpinan macro management. Ya, gaya kepemimpinan ini dapat meningkatkan produktivitas para pekerja, lho. 

Dengan atasan yang enggan campur tangan serta ruang untuk bekerja secara mandiri, umumnya karyawan lebih menghargai atasan yang menjunjung sistem manajemen satu ini.

Lantas, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Macromanagement itu? Seperti apa sih ciri-ciri seorang macromanager? Nah, di artikel ini Jobnas.com akan menjelaskan itu semua untuk mu. Yuk, simak selengkapnya !

Berkenalan dengan Macromanagement

Menurut Inc, secara definitif macromanagement merupakan sebuah gaya manajemen kepemimpinan di mana atasan lebih berfokus pada ide pokok tugas dan bukan pada detail cara kerja bawahannya.

Baca Juga: Sender Reputation, Sebuah Gambaran atas Kualitas di Mata Pelanggan

Biasanya, seorang macromanager akan memberikan instruksi mengenai tugas-tugas yang lebih kecil sekaligus berusaha untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar. Di samping itu, agar pemimpin lain bisa segera mengambil langkah-langkah yang bisa diambil agar tim mereka bisa bekerja dengan lebih efektif, mereka bahkan tak segan untuk menginstuksikannya. 

Macromanagement pada umumnya akan membiasakan budaya berpikir kreatif dan kritis. Selain itu, fokus utama dari karakter kepemimpinan ini juga pemantapan teknik problem solving sebelum memulai segala pekerjaan. 

Seorang macromanager akan mementingkan visi di balik semua pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka bahkan enggan menanam fokus berlebih pada detail pekerjaan bawahannya. Sebaliknya, micromanager akan memberikan perhatian lebih terhadap rincian pekerjaan dan jumlah tugas yang akan dilimpahkan pada bawahannya.

Hal ini menyebabkan tingkat angka ketidakpuasan karyawan serta employee turnover rate yang tinggi. Hal ini disebabkan karena pada umumnya karyawan yang telah matang dan akan merasa terganggu apabila seluruh pekerjaan mereka harus diganggu oleh atasan. 

Hal ini tentu saja berbeda dengan micromanagement, jika diterapkan pada sebuah perusahaan besar, macromanagement akan menjadi sebuah metode yang efektif. Dalam sebuah wawancara dengan Experthub, Christina Bielaszka-Duvernay memerikan bahwa metode kepemimpinan baru yang akan menggantikan micromanagement.

Hal ini tentunya dipengaruhi oleh prinsip macromanaging yang dirasa lebih efektif, serta memiliki dampak yang lebih baik terhadap produktivitas serta psikis para karyawan. Nah, bukan berarti atasan melepas tanggung jawab begitu saja terhadap karyawannya meskipun pendekatan seorang macro manager cenderung lebih bebas dan longgar. 

Sebaliknya, gaya kepemimpinan satu ini bisa menyatukan sebuah tim karena adanya kesepakatan untuk menomorsatukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.

Kelebihan Macromanagement

Tentunya membutuhkan komparasi atau perbandingan jika membahas hal-ihwal metode manajemen. Apabila digunakan pada semua situasi, tidak semua metode yang dianggap baik akan efektif, lho. Oleh sebab itu, penting untuk menelisik kelebihan juga kekurangan macromanagement.

Pertama, Jobnas.com akan menguraikan terlebih dahulu mengenai keunggulan metode macromanage.

1. Efektif untuk Pemegang Jabatan Tinggi

Menurut Investopedia, macromanagement akan sangat bermanfaat bagi atasan yang berada di pucuk struktur kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Metode ini cocok untuk pemuncak hierarki karena fokus mereka akan terbagi dengan baik dengan prinsip kerja macromanaging.

Misal, pekerjaan seorang eksekutif akan lebih rapi bila ia mampu untuk memerintahkan staf tanpa harus berfokus pada rincian terkecil dalam proses pelaksanaan tugas. Justru, atasan harus mengalihkan fokus utama pada cara-cara menerapkan visi untuk setiap perintah yang mereka berikan agar pekerjaan karyawan lebih efisien. 

Dengan menjadikan visi perusahaan sebagai fokus utama, kinerja karyawan akan menjadi lebih baik karena adanya sebuah tujuan yang harus ia capai.

2. Lebih Dihargai Oleh Bawahan

Metode macromanagement juga lebih dihargai oleh para bawahan. Jadi, tidak hanya berguna untuk para pemimpin dan organisator. Dikutip dari Corporate Finance Institute, penerapan metode berpikir kritis, serta teknik problem solving yang rutin akan mendorong karyawan untuk bekerja secara mandiri dan tanggap ketika ada masalah baru.

Di samping itu, selama mereka sedang melaksanakan tugas, kualitas kerja karyawan juga akan meningkat karena tidak adanya gangguan dari atasan. Hal inilah yang pada akhirnya dapat memotivasi karyawan untuk bekerja santai namun dengan hasil yang diharapkan, karena tidak adanya tekanan dan tuntutan yang tidak berat. 

Baca Juga: Cek Kartu BPJS Kesehatan Aktif Atau Tidak

Penanaman tujuan baik perusahaan yang sudah dilakukan sejak awal bergabung membuat karyawan bersemangat dalam tiap tugas.

Kekurangan Macromanagement

Macromanagement juga tidak luput dari kekurangan. Hal ini seperti halnya metode manajemen yang lain. Berikut adalah uraiannya.

1. Bisa Membingungkan Karyawan

Dilansir dari Innovation Management, bekerja dengan seorang macromanager dapat terasa membingungkan. Hal ini timbul karena pengawasan dari atasan yang terasa longgar. Bahkan, macromanaging seakan memberikan jarak terhadap bos dan bawahannya. Atasan akan terlihat jauh dan tak akrab bersama bawahannya karena minimnya informasi terkait detail pekerjaan serta isu dalam tim. Tak jarang macromanager membutuhkan waktu yang relatif lama guna meredakan sebuah masalah dalam tim.

2. Membatasi Relasi Atasan dengan Karyawan

Di samping itu, macromanaging bisa menjadi sebuah pembatas yang memisahkan hubungan atasan dengan bawahannya. Minimnya perhatian dan keterlibatan langsung terhadap aktivitas karyawan bisa membuat macromanager tampak tidak paham bahkan kurang peka terhadap pekerjaan serta kebutuhan bawahannya. Problem semacam ini akan mempengaruhi efektivitas pekerjaan tim. Kinerja karyawan akan terhambat dan divisi terancam tidak memenuhi target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Baca Juga: Dengan Mengetahui Peran Staf Pajak, Kamu akan Jadi Incaran Banyak Perusahaan

Cara Menjadi Macromanager yang Baik

Tentu kamu akan penasaran terkait bagaimana sih cara seorang atasan bisa memaksimalkan metode macromanagement setelah mengetahui kelebihan serta kekurangannya. 

Nah, berikutnya Jobnas.com akan menguraikan bagaimana caranya agar permasalahan-permasalahan yang sudah dipaparkan sebelumnya tidak terjadi ketika perusahaan sepakat untuk menerapkan gaya manajemen macromanage. Yuk, simak penjelasannya. 

1. Selaraskan pekerjaan dengan tujuan utama perusahaan

Menurut Forbes, seorang macromanager sebaiknya terus mengingatkan bawahannya agar bekerja sesuai dengan visi perusahaan. Dengan melakukan hal ini, jika terus memberdayakan misi tempat kerja mereka, maka gairah semangat dan gairah karyawan untuk bekerja akan terpicu. 

2. Beri Karyawan Ruang untuk Bekerja Mandiri

Sebaiknya seorang atasan membiarkan karyawannya untuk menentukan cara kerja mereka secara mandiri dengan menerapkan macromanagement. Hal ini tentu saja akan berguna untuk mendorong bawahan agar bekerja dengan lebih kreatif, serta lebih apresiatif terhadap hasil kerjanya sendiri.

Selain itu, metode ini mendorong karyawan untuk lebih sigap terhadap kekurangan yang ia miliki bila kinerja karyawan justru tidak berkembang. Peran macromanager dalam konteks seperti ini juga cukup mudah. Mereka cukup memberikan kritik dan saran membangun untuk membantu bawahannya.

3. Tentukan Waktu Terbaik untuk Melakukan Intervensi

Terus memastikan bahwa karyawan sadar akan pencapaian mereka merupakan tips terakhir untuk menjadi macromanager yang baik. Pasalnya, seorang macromanager yang baik tidak akan  segan untuk menunjukkan kepuasan terhadap kinerja timnya. Tidak ada salahnya untuk menampilkan perasaan bangga dan suportif dalam tiap kesempatan yang ada.

Nah, atasan harus mengetahui waktu terbaik untuk melakukan intervensi pada kinerja karyawannya agar supaya metode macromanagement dapat berjalan dengan lancar.

Ketika telah melakukan intervensi,agar karyawan dapat menuntaskan pekerjaan mereka, atasan juga harus memberikan ide solutif.

Baca Juga: Aplikasi Pluang, Review Aplikasi Investasi, Kelebihan dan Kekurangan

Demikianlah penjelasan Jobnas.com tentang macromanagement yang perlu kamu ketahui. Hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa macromanagement merupakan gaya kepemimpinan demokratis di mana karyawan berhak untuk bekerja tanpa campur tangan berlebih dari atasan.

Ghufron Writer
3 bulan yang lalu
0

Jobnas.com-Salah satu fundamen paling penting dalam dunia penjualan atau sales adalah Product Knowledge. Tanpa product knowledge, kamu seakan dapat menjalankan pitching hanya dengan membaca skrip saja. Tak ada pengetahuan mendalam seputar produk yang sedang dijual ke calon pelanggan.

Baca Juga: Kenali Website Tempat Jual-Beli Langsung yang Super Mudah Ini

Kalau begitu caranya, bagaimana mereka bisa jadi tertarik untuk membeli produkmu? Untuk mengatasi hal yang seperti itu, Jobnas.com akan mendeskripsikan lebih lanjut ihwal apa sih sebenarnya product knowledge itu, manfaatnya, serta juga cara untuk meningkatkannya. Yuk, simak selengkapnya !

Apa itu Product Knowledge ? 

Menurut Hubspot, secara definitif product knowledge merupakan sebuah situasi di saat sales representative benar-benar memahami produk yang ia jual. Nah, pengetahuan semacam ini sangat penting untuk dimiliki, terutama apabila sales rep tersebut ingin perbincangan  dengan calon pelanggan berjalan dengan lancar. 

Bagaimana yang terjadi apabila tiba-tiba mereka menanyakan detail produk tersebut, tapi kamu tidak bisa menjawab karena tidak benar-benar mempelajarinya?

Dengan kata lain, kalau kamu saja tidak yakin dengan apa yang dijual, mengapa pelanggan harus percaya dan jadi ingin membeli produkmu?

Nah, agar proses penjualan berjalan dengan lebih mulus, sebaiknya usahakan untuk memberikan informasi sedetail mungkin, jawab pertanyaan pelanggan dengan lancar.

Manfaat Product Knowledge bagi Bisnis

Nah, ternyata masih ada, lho, manfaat lain dari product knowledge selain melancarkan proses penjualan. Dikutip dari The Balance Small Business, berikut ini merupakan beberapa rinciannya: 

1. Kemampuan Komunikasi Lebih Kuat

Meningkatkan kemampuan komunikasi sales representative merupakan manfaat utama yang paling jelas dari sebuah product knowledge. 

Baca Juga: Yuk, Buat Slide Presentasi Lebih Menarik dengan Tips-Tips Berikut Ini!

Katakanlah pengetahuanmu akan sebuah produk tidak begitu baik.  Mungkin kamu mungkin akan kesulitan menjual barang saat dipertemukan dengan pelanggan yang berbeda dari biasanya. Nah, melalui product knowledge yang baik, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Manfaat lain adalah meningkatkan kepercayaan diri, yang dapat berujung pada peningkatan penjualan secara keseluruhan.  Kepercayaan diri yang dimaksud di sini berlaku untuk para sales dan juga calon pelanggannya. Nah, kamu bisa membuat pelanggan lebih yakin dan percaya diri untuk membelinya dengan pengetahuan yang mumpuni atas sebuah produk.

3. Memiliki Aset Tak Ternilai

Kamu jadi benar-benar yakin dengan produk yang dijual merupakan manfaat selanjutnya dari product knowledge. Baik untuk perusahaan maupun pelanggan yang sedang ditawarkan produk, hal tersebut merupakan aset tak ternilai. 

Kalau kamu terlihat tahu betul apa yang dijual dan yakin dengan produk tersebut, orang yang membelinya akan merasakan hal serupa. Hafal produk di luar kepala? Di akhir pitching, kamu bisa coba menawarkan produk lain yang bersifat sebagai pelengkap apa yang ingin dibeli oleh pelanggan.

Dengan demikian, secara otomatis kamu berhasil meningkatkan penjualan tanpa perlu mengulang dari awal lagi.

4. Lebih Meyakinkan Pelanggan

Cara meyakinkan pelanggan jika pertanyaannya tidak  bisa dijawab adalah dengan menunjukkan bahwa pengetahuan akan produk dapat sangat membantu proses penjualanmu. 

Misal, saat melakukan penjualan, kamu harus tahu apa yang membuat barang tersebut berharga jika dibandingkan dengan produk kompetitor.

Kalau pelanggan mengajukan pertanyaan, kamu juga akan lebih mudah menjawabnya dan meyakinkan mereka bahwa produkmu lah yang terbaik.

5. Menciptakan Brand yang Lebih Pakem

Mayoritas orang pasti memahami bahwa perusahaan dan image sebuah brand butuh waktu untuk dibangun sampai akhirnya sukses. Tim sales dengan product knowledge yang mumpuni dapat mempermudah jalan perusahaanmu menuju kesuksesan. 

Secara otomatis kamu juga akan mencari tahu seputar produk kompetitor hanya dengan mengetahui produkmu sendiri.

Kemudian,  agar produk milikmu mencapai bentuk terbaiknya, akan dilakukan pengembangan dan usaha lain. Tanpa pengetahuan akan detail produk, mungkin hal ini masih terlewat begitu saja dan tidak akan ada ruang untuk pengembangan.

Bagaimana Cara Meningkatkan Product Knowledge ?

Tentu, kamu akan penasaran bagaimana sih cara meningkatkan product knowledge secara merata setelah tahu pengertian dan manfaatnya. 

Nah, jawaban pertama tentu saja adalah mengasosiasikan seputar product knowledge kepada tim sales melalui pelatihan secara rutin.  Dengan demikian, mereka akan terbiasa dan tahu apa yang harus dijadikan acuan saat melakukan penjualan. 

Menurut Marketing91, jenis-jenis product knowledge antara lain adalah pelanggan, industri, kompetisi, spesifikasi produk, misi dan visi perusahaan saat membuat produk, dan yang terpenting, customer experience. Di samping itu, sebenarnya masih ada beberapa lagi jenis-jenisnya.  

Intinya adalah sales rep harus mengetahui tentang perusahaan tempat ia bekerja, industrinya, siapa saja kompetitornya, dan tak lupa produk itu sendiri. Jadi, mereka pada dasarnya dituntut untuk wajib mengetahui bahwa di balik sebuah produk, terdapat produksi yang mesti dilewati, nilai-nilai di luar harga pasaran, dan tujuan pembuatannya.

Pelajari cara mencari solusi, terutama dalam situasi yang kurang mengenakkan untuk para salesperson dan perwakilan perusahaan lainnya.  Hal ini dikarenakan pengetahuan akan produk seharusnya mempermudah proses problem solving dan bukan sebaliknya.

Baca Juga: Agar Keamanan Datamu Terjaga, Pahami Software Keylogger yang Sangat Berbahaya

Demikianlah penjelasan Jobnas.com mengenai serba-serbi product knowledge dan cara meningkatkannya. Diharapkan, setelah membaca artikel ini kamu langsung bisa mengaplikasikannya dalam pekerjaanmu sehari-hari.