Menu

Trading

Iwan Bisa
5 bulan yang lalu
0

Jobnas.com – Return on Equity (ROE) sangat penting bagi sebuah perusahaan yang ingin mengelola transparansi keuangan.

Dalam dunia keuangan, kita mengenal istilah active income dan passive income. Active income sendiri adalah penghasilan yang bisa kita dapatkan ketika kita bekerja. Dalam artian, untuk dapat penghasilan kita harus bekerja.

Berbeda dengan poin kedua, untuk mendapat pengahasilan kita tidak perlu bekerja. Kita hanya perlu mengeluarkan modal, selanjutnya biarkan sistem yang bekerja untuk kita. Salah satunya adalah dengan cara berinvestasi.

Jika kalian memiliki uang lebih, ada baiknya untuk berinvestasi. Namun, sebelum melakukannya, kalian perlu memperlajari Return on Equity (ROE) perusahaan yang ingin kita tuju.

Langkah ini perlu dilakukan karena angka tersebut dapat menunjukkan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan ekuitas dan performa keuangannya secara menyeluruh.

Baca artikel ini sampai tuntas ya, agar kalian tidak salah langkah ketika ingin berinvestasi dimulai dari pengertian ROE, cara menghitung hingga apa saja kegunaan dari ROE itu sendiri.

Apa Itu Return on Equity (ROE)?

Langkah pertama kita perlu tahu apa itu ROE terlebih dahulu. Melansir dari Investopedia, return on equity adalah rasio yang menunjukkan seberapa efisien sebuah perusahaan dan bagaimana manajemennya dari aspek keuangannya.

Rasio ini dibutuhkan oleh para investor agar sebelum berinvestasi mereka bisa memutuskan untuk melanjutkan atau tidak, karena performa keuangan sebuah perusahaan akan berpengaruh banyak terhadap kesejahteraan dalam berinvestasi.

Kita pasti tidak mau, niatnya berinvestasi untuk dapat passive income tetapi malah kerugian yang kita dapatkan karena tidak bisa menilai ROE dengan baik dari perusahaan, bukan?

Intinya, ROE itu sangat penting untuk dilihat oleh investor, agar tidak asal berinvestasi. Dengan data ini, setidaknya mereka tahu medan yang akan dihadapi nantinya.

Sederhananya, semakin tinggi rasio ROE, semakin efisien pula manajemen perusahaan dalam mencari pendapatan dan meningkatkan perkembangan dari pembiayaan ekuitas yang ada.

Sampai sini sudah paham tentang dasar dari return on equity, kan?

Cara Menghitung Return on Equity (ROE)

Setelah mengetahui apa itu ROE, maka langkah selanjutnya adalah belajar bagaimana cara menghitungnya dengan benar.  menandakan performa keuangan sebuah perusahaan.

Nah, perhitungan apakah kira-kira yang bisa menentukan performa keuangan sebuah perusahaan berdasarkan objek yang bisa dinalar?

Jawabannya adalah pendapatan bersih dan ekuitas dari para pemegang saham atau yang lebih dikenal dengan istilah shareholder.

Tenang saja, cara menghitung ROE sangat mudah, kok. Kalian hanya perlu membagi jumlah pendapatan bersih perusahaan dengan pendapatan para pemegang saham dikurangi dividen dan pengeluaran lainnya.

Untuk pemegang saham, jumlah yang diperhitungkan dalam return on equity (ROE) adalah semua saham yang dimiliki oleh para investor. Kalian bisa mendapat datanya melalui internet atau bisa langsung meminta data pada pihak perusahaan.

Tolak Ukur Return on Equity (ROE)

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Corporate Finance Institute, return on equity dapat memperlihatkan inti dari suatu perusahaan, untuk mengukur profitabilitas atau kemungkinan mendapatkan keuntungan bagi para pemilik usaha dan investor.

Dalam arti lain, pendapatan yang diterima oleh para stockholder adalah tolak ukur yang menunjukkan seberapa besar uang yang dihasilkan setelah mereka berinvestasi di sana.

Mencari Tahu Masalah dengan Melihat ROE

Selain menjadi tolak ukur keuntungan yang mungkin didapatkan, return on equity (ROE) juga bisa digunakan untuk mencari tahu masalah di perusahaan tidak terlihat dan tidak terpublikasi resmi.

ROE yang tinggi seyogyanya menandakan manajemen keuangan perusahaan yang cukup bagus, meski demikian jika tidak diimbangi dengan performa ekuitas yang baik pula bisa berisiko pada para investor.

Dilansir dari Investopedia, setidaknya ada 2 hal yang bisa dijadikan tool untuk melihat sinergi yang terbangun antar keduanya, yaitu:

1. Profit tidak konsisten

Salah satu masalah utama dari return on equity (ROE) yang terlampau tinggi adalah kemungkinan adanya profit yang tidak konsisten.

Sebagai contoh, ada perusahaan yang sudah beberapa tahun tidak memiliki profit sama sekali.

Namun, pada tahun ini mereka mendapatkan profit yang luar biasa banyak. Setelah dihitung, nilai akhir ROE bisa jadi sangat tinggi bahkan terlampau tinggi. Inilah yang dimaksud dengan profit yang tidak konsisten.

Jika demikian, itu tandanya ROE perusahaan terssebut sedang tidak baik.

2. Utang dalam jumlah besar

Ketika kalian mendapati perusahaan dengan return on equity (ROE) yang sangat tinggi, maka jangan terlalu gegabah untuk segera berinvestasi. Sebab, bisa saja ROE dari perusahaan itu tinggi karena perusahaan tersebut seringkali meminjam uang dalam jumlah besar.

Nominal pinjaman secara instan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya ROE.

Hal ini terjadi karena equity yang terdapat dalam perhitungan adalah hasil pengurangan aset dengan utang.

Semakin tinggi utang sebuah perusahaan, semakin rendah pula ekuitasnya.

Nah, sampai di sini apakah kalian sudah bisa memahami ROE dan bagaimana cara kerjanya?

Intinya, ROE merupakan rasio yang membantu investor melihat kemungkinan mendapat keuntungan setelah berinvestasi di perusahaan yang dituju.

Semoga artikel ini bermanfaat!

yakinpol
7 bulan yang lalu
0

Jobnas.com – Gaya promosi di media sosial belakangan ini makin ke mana-mana. Dulu sih, yang keren itu poster foto, tapi sekarang lebih ke video pendek. Kebetulan, video pendek itu bisa banget buat nunjukin sisi interaktif dan manusiawi dari produk loh.

Kenapa Harus Pilih youtube Shorts?

Bagaimana sih cara YT Short viral dan banyak penonto? tentusaja ada caranya, artikel ini bakal jelasin detail 5 tips short jadi banyak penonton.

Salah satu tempat yang oke banget buat promosi bisnismu adalah YouTube Shorts. Ini dia platform yang punya banyak orang nonton, jadi cocok banget buat promosi produk atau layanan lo!

Baca juga: 10 Cara Upload Lagu di YouTube Tanpa Copyright 100% Lolos!

Tips Buat YouTube Shorts yang Oke Banget:

1) Riset Kata Kunci

YouTube dan Google tuh sama cara kerjanya, pakai kata kunci. Sebelum nulis caption, coba riset kata kunci dulu. Meskipun orang jarang banget nyari video shorts, tapi yang muncul biasanya nyambung sama apa yang lagi lo cari di YouTube biasa. Pake alat riset kata kunci kayak Vidiq, Tubebuddy, Google Trend, Ahref, atau Semrush. Pilih yang gratisan kalo bisa, buat awalan yang mudah buat cari kata kunci yang pas.

2) Pakai Fitur Musik

YouTube Shorts punya fitur musik loh. Nambahin musik bisa bikin video lo makin kece dan menarik perhatian. Pilih musik yang lagi hits atau lagi viral buat bantu video lo lebih keliatan. Meskipun banyak yang bilang musik viral nggak ngaruh, tapi musik yang nyambung bisa bikin penonton lebih lama stay dan nambah nilai plus buat channel lo.

3) Manfaatin Hashtag

YouTube Shorts juga punya fitur hashtag. Pilih hashtag yang cocok sama konten video lo. Jangan lupa riset dulu biar dapet hashtag yang sering dipake dan bisa bantu nambahin penonton.

4) Perhatiin Durasi Video

YouTube Shorts punya batas waktu video, cuma 60 detik. Jadi pastiin video lo nggak lebih dari itu ya. Video yang singkat butuh perencanaan biar tetep seru tapi padet isinya.

5) Tentuin Gaya Video

Gak semua video promosi cocok buat YouTube Shorts. Coba riset dulu gimana pesaing dan brand lain promosi di YouTube Shorts. Setelah itu, lo bisa modifikasi ide bagus yang lo temuin buat video Shorts lo sendiri.

Dengan ikutan tips-tips ini, lo bisa naikin daya tarik promosi bisnismu lewat YouTube Shorts dan dapet perhatian lebih dari penonton yang potensial. Gak sabar lihat kesuksesan bisnis lo nih!

Iwan Bisa
1 tahun yang lalu
0

Jobnas.com – Bull market adalah keadaan pasar saham yang diharapkan investor. Tapi apa sebenarnya Bull Market itu? Singkatnya, bull market adalah situasi di mana harga saham terus naik. Kondisi ini sering dimanfaatkan investor untuk mengambil keuntungan.

Secara lebih rinci, di artikel kali ini Jobnas akan membahas apa itu bull market dan tips untuk memanfaatkan momentumnya.

Definisi Bull Market

Bull Market dan Tips untuk Memanfaatkan Kondisi Harga Saham Naik
Bull Market dan Tips untuk Memanfaatkan Kondisi Harga Saham Naik

Ada dua istilah kondisi pasar saham yang harus dipahami investor, yaitu bull market dan bear market. Keduanya memiliki arti yang berlawanan. Dalam artikel ini, bagaimanapun, Jobnas hanya akan membahas apa itu bull market saja. Bull Market adalah keadaan pasar keuangan saat harga sedang naik atau diperkirakan akan naik. Di pasar modal, istilah ini sering disebut bullish.

Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa situasi ini disebut bull market? Tidak ada sapi berarti sapi? Nah, istilah ini sebenarnya diambil dari bahasa Inggris ‘bull’ yang berarti banteng. Saat bertarung, banteng akan menyeruduk atau mengangkat tanduknya untuk menyerang dan mempertahankan diri. Inilah mengapa kenaikan harga saham disebut bull market.

Istilah bull market lebih banyak digunakan di pasar saham. Namun, istilah tersebut juga dapat digunakan untuk kelas aset lainnya, seperti obligasi, mata uang, komoditas, dan real estat. Jadi, apa tolak ukur situasi ini yang disebut bull market? Faktanya, tidak ada matriks khusus untuk menilai apakah situasi pasar bullish atau tidak. Namun, seperti dikutip dari The Balance, pasar secara umum dikatakan bullish ketika naik 20%.

Baca juga: Apa itu Inflasi? Berikut Penjelasan Lengkap beserta 4 Penyebab Terjadinya Inflasi

Hal ini bisa terjadi ketika harga saham terus naik dalam waktu yang lama. Setelah itu, investor semakin percaya bahwa harga akan terus bergerak naik. Pada akhirnya, harga saham akan meningkat berkat kepercayaan investor. Mereka terus membeli dan mengenakan harga tinggi untuk suatu saham.

Keunikan dari Bull Market

Untuk lebih memahami apa itu bull market, kalian dapat memahami karakteristiknya yang berbeda. Sedangkan rangkaian fitur utamanya sebagai berikut:

1. Tingkat Pengangguran Turun

Dengan yang pertama, perusahaan akan mempekerjakan lebih banyak karyawan. Jadi tingkat pengangguran juga akan turun, tapi belum tentu drastis.

2. Orang Lebih Mudah Menggunakan Uangnya

Bagi investor, apa itu bull market jika bukan pengembalian yang lebih tinggi? Tentu saja, mereka mengharapkan pengembalian yang tinggi dari pasar bullish. Bahkan, mereka bisa mendapatkan keuntungan jangka panjang tersebut.

Oleh karena itu, juga akan lebih mudah bagi mereka untuk menggunakan uang mereka untuk membeli sesuatu.

3. Investor Membeli Lebih Banyak Saham

Hukum penawaran dan permintaan tidak hanya terjadi di pasar pada umumnya tetapi juga di pasar saham. Ketika harga saham terus naik, investor percaya bahwa harga akan naik lebih tinggi lagi di masa depan.

Akibatnya, investor membeli lebih banyak saham dengan harapan mendapatkan return yang lebih tinggi lagi. Ketika banyak permintaan beli dari investor, harga saham terus naik. Ini disebut pasar banteng.

4. Perusahaan Fokus Pada Pengembangan Masa Depan

Jika banyak investor yang membeli saham suatu perusahaan, berarti mereka memiliki kepercayaan terhadap perusahaan tersebut. Karena kepercayaan investor, perusahaan juga lebih fokus pada kinerja masa depan.

Biasanya perusahaan akan berinvestasi lebih banyak, mempekerjakan lebih banyak karyawan untuk membayar lebih banyak untuk karyawan mereka.

5. Risiko Overinflasi

Melanjutkan poin sebelumnya, bull market juga bisa menyebabkan overinflasi lho. Bagaimana itu bisa terjadi? Ketika orang membelanjakan lebih banyak dari sebelumnya, jumlah uang yang beredar juga akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya inflasi di suatu negara.

Saran Investasi Bull Market

Sekarang setelah kalian mengetahui apa itu bull market, apakah kalian siap memanfaatkan momentumnya?

Pada subbab kali ini Jobnas menawarkan tiga tip investasi bull market sehingga kalian bisa mendapatkan hasil maksimal dari uang kalian!

1. Masuk dan Keluar Pasar Perlahan

Tidak ada yang tahu pasti kapan bull market akan mulai dan berakhir. Bahkan, sebuah kondisi baru bisa disebut bull market ketika terjadi atau pernah terjadi sebelumnya. Jadi kalian bisa melewatkan harga terendah untuk membelinya. Sebaliknya, kalian juga bisa menjual saham terlalu cepat meski harganya terus naik.

Nah, untuk menghindari hal seperti ini, sebaiknya lunasi secara bertahap atau keluar masuk pasar secara bertahap.

2. Review Saham Consumer Goods

Seperti dikutip dari Business Insider, saham di sektor consumer goods bisa menjadi salah satu pilihan yang baik untuk memanfaatkan bull market. Emiten di daerah ini memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat. Selama orang percaya pada produk atau layanan mereka, nilai saham akan terus meningkat.

3. Tetap Diversifikasi Portofolio Kalian

Menurut Benjamin Graham, dikutip oleh Groww, seorang investor harus memiliki antara 10 hingga 30 emiten yang tersebar di berbagai sektor.

Jangan terlalu optimis dengan keadaan suatu saham. Kalian tidak tahu bagaimana keadaan saham perusahaan di masa depan. Jadi teruslah melakukan diversifikasi portofolio saham kalian.

Sekarang kalian sudah mengerti apa itu bull market bukan? Jika iya, kini saatnya kalian bisa mulai berinvestasi. Berbagai tips investasi bisa kamu temukan di blog Jobnas! Ayo kepoin terus Website Jobnas mulai dari sekarang biar kalian tidak ketinggalan jaman.