Jobnas
Artikel

Artikel

Rating Jogja Rating Jogja
19 jam yang lalu
5 Weton ini Ditakdirkan Menjadi Sodagar Kaya

5 Weton ini Ditakdirkan Menjadi Sodagar Kaya

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
1. Kamis Legi
Kamis Legi (8 + 5 = 13) Neptu 13 dianggap neptu naik, sering dikaitkan dengan perkembangan usaha bertahap tapi stabil. Kamis memberi unsur wibawa, Legi memberi daya tarik sehingga cocok untuk posisi pemilik atau pengendali usaha.John D. Rockefeller – lahir 8 Juli 1839 (hari Kamis, hitungan pasaran Jawa bisa sesuai Legi). Dia adalah pendiri Standard Oil dan dianggap salah satu orang terkaya dalam sejarah modern. Kekayaannya begitu besar hingga Standard Oil hampir mendominasi industri minyak AS di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

 

2. Jumat Kliwon
Jumat Kliwon (6 + 8 = 14) Neptu 14 termasuk besar dan dalam primbon sering dikaitkan dengan kekuatan pengaruh dan keberanian mengambil risiko. Kombinasi ini banyak disebut kuat di bidang usaha mandiri karena tahan tekanan dan fluktuasi. Andrew Carnegie – lahir 25 November 1835 (ini jatuh Jumat dan pasaran bisa sesuai Kliwon jika dihitung kalender Jawa). Carnegie membangun kerajaan baja besar di AS dan menjadi salah satu tokoh terkaya

 

3. Selasa Pon
Selasa Pon (3 + 7 = 10) Neptu 10 dikenal sebagai neptu kerja keras dan strategi, bukan keberuntungan instan. Dalam hitungan Jawa, neptu ini kuat di usaha yang dibangun dari perputaran modal dan kecepatan mengambil peluang.Cornelius Vanderbilt – lahir 27 Mei 1794 (hari Selasa, dan pasaran Jawa dapat dipasangkan Pon dengan perhitungan kalender Jawa). Vanderbilt adalah raja railroad dan shipping di awal Amerika Serikat.

 

4. Sabtu Pahing
Sabtu Pahing (9 + 9 = 18) Neptu 18 tergolong sangat besar dan sering dikaitkan dengan kapasitas memimpin dan menguasai sistem. Dalam primbon, neptu ini kuat untuk jadi juragan karena daya tahan, keberanian, dan kontrol usaha.Simón Iturri Patiño – lahir 1 Juni 1860 (hari Sabtu, dan kalau dihitung kalender Jawa bisa Pahing). Patiño adalah raja tambang timah dari Bolivia yang termasuk di antara orang-orang terkaya dunia di era awal abad

 

5. Minggu Wage
Minggu Wage (5 + 4 = 9) Neptu 9 termasuk neptu mandiri yang tidak bergantung pada orang lain. Kombinasi ini sering dihitung cocok untuk usaha kecil-menengah yang berkembang lewat konsistensi dan jaringan pribadi.Mayer Amschel Rothschild – lahir 23 Februari 1744 (hari Minggu, dan pasaran Jawa bisa Wage jika sesuai kalender Jawa). Rothschild membangun dinasti bank internasional yang sangat berpengaruh dan kaya sepanjang abad ke-18 ke-19.

 

6. Rabu Legi
Rabu Legi (7 + 5 = 12) Neptu 12 dalam primbon masuk golongan yang kuat di perhitungan rezeki karena seimbang antara kecerdikan (Rabu) dan keluwesan transaksi (Legi). Kombinasi ini sering dikaitkan dengan kemampuan mengelola arus uang dan relasi dagang.Franklin D. Roosevelt adalah Presiden Amerika Serikat ke-32 yang memimpin negara itu melewati Depresi Besar dan Perang Dunia II. Ia menjabat empat kali (1933–1945) dan dikenal lewat kebijakan New Deal yang mengubah peran pemerintah dalam ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Lingkungan Kerja Ini Layak Dipertahankan atau Sudah Waktunya Pergi?

Lingkungan Kerja Ini Layak Dipertahankan atau Sudah Waktunya Pergi?

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Kerja nyaman itu kerasa, bukan cuma kata orang
Datang kerja nggak deg-degan, pulang nggak habis energi mental.

 

Rekan kerja saling bantu, bukan saling jatuhin
Diskusi jalan, beda pendapat aman, nggak ada gosip berlebihan.

 

Kerja fokus karena beban masuk akal
Target jelas, jam kerja manusiawi, lembur bukan kewajiban rutin.

 

Usaha dihargai, bukan dianggap biasa
Kerja keras diakui, bukan cuma yang dekat atasan.

 

Lingkungan toksik bikin capek sebelum mulai kerja
Banyak drama, kritik menjatuhkan, orang datang dan pergi terus.

 

Kalau tiap hari stres, itu bukan tantangan
Burnout, susah istirahat, kerja kebawa sampai rumah.

 

Bertahan atau pergi itu soal waras
Lingkungan sehat bikin berkembang, bukan sekadar bertahan hidup.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Karier di Kota Besar vs Kota Kecil: Cara Orang Melihat Masa Depan Kerja

Karier di Kota Besar vs Kota Kecil: Cara Orang Melihat Masa Depan Kerja

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Di kota besar, karier sering dilihat sebagai ajang lomba.
Banyak peluang, tapi semua juga kejar target yang sama.

 

Kota kecil lebih mikir aman dan cukup.
Kerja stabil, hidup tenang, nggak harus cepat naik jabatan.

 

Peluang kerja: luas vs terbatas.
Kota besar punya banyak industri, kota kecil fokus sektor lokal.

 

Lingkungan kerja bikin cara berpikir beda.
Kota besar cepat dan penuh tekanan, kota kecil lebih santai.

 

Soal uang, ekspektasinya juga nggak sama.
Gaji tinggi di kota besar, tapi biaya hidup juga ikut naik.

 

Kepuasan kerja nggak selalu soal gaji.
Di kota kecil, rasa cukup bikin orang lebih betah kerja.

 

Nggak ada yang paling benar, tergantung prioritas hidup.
Mau tumbuh cepat atau hidup seimbang, pilihannya ada di kamu.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Realita Dunia Kerja yang Sering Bikin Lulusan Baru Kaget

Realita Dunia Kerja yang Sering Bikin Lulusan Baru Kaget

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Ekspektasi waktu kuliah sering terlalu mulus.
Di kerjaan, target bisa berubah mendadak dan salah satu error bisa kena ke tim.

 

Status “masih belajar” pelan-pelan hilang.
Di kantor, kamu dinilai dari hasil dan inisiatif, bukan niat.

 

Banyak skill penting nggak pernah diajarin di kelas.
Komunikasi, atur waktu, dan nyelesain masalah abu-abu dipelajari sambil jalan.

 

Kerja tim nyata nggak sesederhana tugas kelompok.
Ada beda pendapat, ego, dan karakter yang harus dihadapi tiap hari.

 

Tekanan mental datang lebih cepat dari yang dibayangin.
Dinilai rutin, dituntut konsisten, waktu istirahat makin terbatas.

 

Banyak aturan kantor nggak pernah ditulis.
Cara ngomong, baca situasi, dan adaptasi budaya jadi penentu bertahan.

 

Dunia kerja nggak kejam, tapi beda level.
Yang cepat beradaptasi, biasanya lebih dulu stabil.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Sibuk Terus, Tapi Karier Gitu-Gitu Aja? Ini Penyebabnya

Sibuk Terus, Tapi Karier Gitu-Gitu Aja? Ini Penyebabnya

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Banyak orang kelihatan sibuk, tapi sebenarnya cuma kelihatan produktif.
Agenda penuh belum tentu kerjaan kamu berdampak ke karier.

 

Tugas kecil nyedot waktu paling banyak.
Email, chat, dan notifikasi bikin hari habis tanpa progres nyata.

 

Multitasking bikin capek, bukan bikin cepat.
Pindah-pindah tugas bikin fokus pecah dan hasil makin tipis.

 

Nggak punya prioritas = kerja reaktif terus.
Yang dikerjain cuma yang datang duluan, bukan yang paling penting.

 

Sibuk tanpa arah bikin orang cepat burnout.
Badan capek, kepala penuh, tapi skill nggak nambah.

 

Kerja keras tanpa tantangan bikin karier mandek.
Nggak belajar hal baru, lama-lama susah bersaing.

 

Solusinya bukan kerja lebih lama, tapi lebih tepat.
Fokus ke tugas berdampak, kurangi distraksi, atur jeda istirahat.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Karier Naik Pelan tapi Pasti

Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Karier Naik Pelan tapi Pasti

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Karier sering naik bukan karena momen besar
Kebiasaan harian yang konsisten justru lebih kelihatan dampaknya dibanding prestasi besar yang jarang.

 

Networking nggak selalu soal acara formal
Sekadar nyapa rekan kerja atau aktif di LinkedIn bisa membuka peluang baru.

 

5 menit mikir ulang kerjaan itu bukan buang waktu
Refleksi harian bantu sadar apa yang perlu diperbaiki besok.

 

Balas chat cepat itu kelihatan sepele, tapi dinilai
Respons tepat waktu bikin kamu terlihat bisa diandalkan.

 

Belajar dikit tapi rutin lebih kepakai
Satu hal baru per hari bikin kamu lebih adaptif tanpa terasa berat.

 

Orang yang rapi catatannya jarang bikin salah
Tugas tercatat, prioritas jelas, kerja jadi lebih tenang.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Kebiasaan Kantor yang Terlihat Biasa, Tapi Diam-Diam Merusak Kesehatan

Kebiasaan Kantor yang Terlihat Biasa, Tapi Diam-Diam Merusak Kesehatan

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Duduk membungkuk itu enak sesaat, efeknya panjang.
Postur ini bisa bikin punggung, leher, sampai kepala sering nyeri kalau jadi kebiasaan.

 

Duduk 9 jam sehari, lebih lama dari waktu tidur.
Kurang gerak bikin metabolisme melambat dan risiko obesitas naik.

 

Lembur lewat 8 jam bukan makin produktif.
Capek numpuk, stres naik, performa kerja justru turun.

 

Ngemil terus karena bosan itu bahaya pelan-pelan.
Kalori masuk, badan jarang gerak, risiko berat badan naik.

 

Menunda makan demi kerja bikin badan “protes”.
Pola makan berantakan bisa ganggu pencernaan dan bikin cepat lelah.

 

Kebiasaan kecil tiap hari, dampaknya bisa tahunan.
Kerja penting, tapi badan juga perlu dijaga biar tetap jalan lama.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Naik Jabatan Nggak Selalu Bikin Lebih Bahagia

Naik Jabatan Nggak Selalu Bikin Lebih Bahagia

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Setelah promosi, bahagia itu sering cuma sementara.
Banyak riset nunjukin kepuasan kerja naik sebentar, lalu turun karena tekanan baru.

 

Tanggung jawab naik, kepala jarang istirahat.
Ngatur tim dan ambil keputusan bikin stres bertahan lama, bahkan sampai tahunan.

 

Jam kerja makin panjang, capeknya numpuk.
Lembur jadi biasa, energi habis buat kerja, bukan buat diri sendiri.

 

Hubungan kantor bisa ikut berubah.
Rekan yang dulu santai, kadang jadi saingan atau malah nyinyir.

 

Waktu pribadi makin tergerus.
Keluarga dan waktu santai sering kalah sama tuntutan jabatan.

 

Gaji naik, tapi habis buat ngilangin stres.
Refreshing bukan lagi bonus, tapi pelarian biar tetap waras.

 

Naik jabatan tanpa siap, risikonya besar.
Banyak yang akhirnya pengin resign meski posisi dan gaji naik.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Merantau atau Kerja di Kota Asal? Ini Plus Minus yang Sering Baru Kerasa Setelah Dijalanin

Merantau atau Kerja di Kota Asal? Ini Plus Minus yang Sering Baru Kerasa Setelah Dijalanin

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Merantau sering terlihat menjanjikan di awal.
Gaji dan peluang memang lebih besar, tapi biaya hidup ikut naik drastis.

 

Gaji besar di kota besar belum tentu bikin tenang.
Rp15 juta di Jakarta bisa terasa pas-pasan karena kos, makan, dan transport.

 

Jauh dari keluarga itu bukan hal sepele.
Semua urusan diurus sendiri, dari sakit sampai capek mental.

 

Kerja di kota asal lebih ramah buat dompet.
Nggak perlu kos mahal, ongkos harian lebih ringan, lebih gampang nabung.

 

Tapi peluang di kota asal sering lebih sempit.
Pilihan kerja terbatas, jenjang karier lebih lambat dibanding kota besar.

 

Kota besar kejar karier, kota asal jaga stabilitas.
Bukan soal mana yang keren, tapi mana yang paling cocok buat kondisi kamu.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Kesalahan Keuangan Pekerja Muda yang Sering Terjadi di Awal Kerja

Kesalahan Keuangan Pekerja Muda yang Sering Terjadi di Awal Kerja

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Gaji pertama sering bikin lupa bikin anggaran
Banyak pekerja muda nggak nyatet pemasukan-pengeluaran karena ngerasa “masih kecil”.

 

Nongkrong, barang branded, ikut tren—gaji habis tanpa sadar
Gaya hidup naik lebih cepat dari penghasilan.

 

Dana darurat sering dianggap nanti saja
Padahal idealnya punya tabungan 3–6 bulan pengeluaran.

 

Paylater dan kartu kredit jadi jebakan halus
Cicilan gadget dan liburan bikin utang lewat 30% gaji.

 

Merasa masih muda, investasi ditunda terus
Padahal mulai dari gaji pertama bikin beban ke depan lebih ringan.

 

Masalahnya bukan di gaji, tapi cara ngaturnya
Tanpa aturan, gaji naik pun tetap terasa kurang.

 

Mulai dari langkah sederhana
Atur 50/30/20, pisahkan rekening, bangun dana darurat dulu.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Kenapa Banyak Orang Terjebak Hidup dari Gaji ke Gaji?

Kenapa Banyak Orang Terjebak Hidup dari Gaji ke Gaji?

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Gaji habis bukan selalu karena gaji kecil.
Banyak kasus, masalahnya ada di cara ngatur uang, bukan jumlahnya.

 

Nggak paham ngatur uang, gaji cepat lenyap.
Tanpa kebiasaan nyatet dan ngatur, uang datang cuma buat lewat.

 

Sedikit-sedikit jajan, lama-lama jadi beban.
FOMO, kopi harian, dan belanja impulsif bikin pengeluaran bocor halus.

 

Gaji satu-satunya sandaran itu rawan.
Begitu ada kebutuhan mendadak, tabungan langsung terkuras.

 

Banyak orang mikirnya cuma “yang penting hari ini aman”.
Nunda nabung dan investasi kecil bikin masa depan terus ketunda.

 

Uang nggak berkembang kalau cuma disimpan.
Diam di rekening, nilainya pelan-pelan dimakan inflasi.

 

Keluar dari gaji ke gaji itu soal kebiasaan.
Bukan instan, tapi bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
yakinpol yakinpol
1 minggu yang lalu
Gaji Tinggi, Tapi Waktu Hidup Habis di Kantor?

Gaji Tinggi, Tapi Waktu Hidup Habis di Kantor?

Batas Melamar Pekerjaan ini Artikel
Gajinya besar, jam kerjanya juga nggak kecil.
Lebih dari seperempat pekerja Indonesia kerja di atas 49 jam per minggu. Hampir 10 jam sehari.

 

Sektor gaji tinggi justru banyak yang burnout.
Di sektor keuangan, 6 dari 10 pekerja alami gejala burnout meski gajinya di atas rata-rata.

 

Lembur nambah uang, tapi nggak selalu nambah hidup.
Lembur bikin penghasilan naik sementara, tapi capek dan stresnya numpuk jangka panjang.

 

Kerja lama ≠ hidup lebih sejahtera.
68% karyawan kerja di atas 50 jam seminggu, tapi banyak tetap hidup dari gaji ke gaji.

 

Masalahnya bukan cuma kerja, tapi gaya hidup.
Gaji naik, biaya tetap ikut naik. Tanpa sadar tetap kejebak paycheck-to-paycheck.

 

Dampaknya ke badan dan mental serius.
Overwork bisa naikkan risiko burnout sampai 3 kali lipat dan ganggu kesehatan jantung.

 

Makanya, banyak yang mulai mikir ulang.
43% pekerja Indonesia lebih milih work-life balance dibanding gaji tinggi.

 

Rp10 juta tenang vs Rp100 juta tapi stres?
Buat banyak orang sekarang, waktu hidup lebih mahal dari angka di slip gaji.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap

"Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan hati, akan kembali menjadi rejeki yang berarti."