Inventory Management: Membantu Inventaris Bisnis Terencana dengan Baik

Inventory Management Membantu Inventaris Bisnis Terencana dengan Baik

Jobnas.com – Inventory management adalah hal yang sangat perlu kamu perhatikan, jika ingin bisnis terus bisa memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen. Akan sangat sulit bagi bisnis bisa bertahan dan mendapatkan benefit tanpa Inventory management yang terencana dan terstruktur. Namun, hal ini memang menantang.

Baca Juga: Sama-Sama Mudahkan Transaksi, Apa Perbedaan Digital Banking, Mobile Banking dan Internet Banking?

Bahkan, 43% retailer sepakat bahwa inventory management merupakan tantangan utama bagi operasi bisnis sehari-harinya. Jika kamu masih kebingungan terkait inventory management, yuk simak penjelasan Jobnas.com berikut ini !

Pengertian Inventory Management

Dikutip dari Investopedia, inventory management adalah proses memesan, menyimpan, dan menggunakan inventory atau inventaris sebuah bisnis atau perusahaan. Untuk mewujudkan  inventory management yang tidak hanya baik tetapi juga efektif, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Nah, pada hakikatnya, kegiatan inti dalam inventory management adalah penanganan bahan baku, komponen, dan juga produk akhir.

Selain itu, inventory management juga mencakup pengaturan mengenai seberapa banyak barang harus dipesan, disimpan di gudang, dan distribusinya sekaligus biayanya. Jadi, inventory management merupakan serangkaian proses mulai dari hulu ke hilir dalam sebuah rantai pasok dan proses manufaktur dengan mengusahakan resiko minim.

Tujuan dari inventory management adalah untuk mengetahui di mana inventarismu berada saat ini. Selain itu, kita pun bisa mengetahui berapa banyak barang yang perlu dipesan untuk menjaga ketersediaan barang untuk bisnis yang berkelanjutan.

Baca juga: Cara Produktif Untukmu yang Sering Menunda Pekerjaan Melalui 5 Second Rule

Pentingnya Inventory Management

Karena kegiatan ini memastikan keberlanjutan bisnis, maka investory management tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika inventaris bisnismu diatur dengan baik, manajemen rantai pasoknya akan juga teratur.

Tanpa inventory management, penyediaan barang akan mengalami banyak kendala, seperti salah memesan jumlah, kekurangan atau kelebihan persediaan, dan masih banyak lagi. Di samping itu, bisnismu akan mengalami kerugian yang besar, apalagi jika berlanjut untuk waktu yang begitu lama.

Tidak hanya biaya, tenaga pun terbuang sia-sia tanpa mendapat keuntungan yang sesuai. Menurut Chron, inventory management yang kurang baik menyebabkan pelayanan pelanggan yang buruk. Hal inilah yang pada akhirnya akan membuat reputasi sebuah bisnis bisa negatif sehingga perkembangannya akan menjadi sulit. 

Metode/Teknik Inventory Management

1. Economic Order Quantity (EOQ)

Dalam inventory management, EOQ adalah salah satu strategi yang menggunakan formula untuk menemukan jumlah pembelian ideal yang perlu dilakukan sebuah perusahaan. Formula ini mempertimbangkan beberapa variabel seperti total biaya produksi, tingkat permintaan, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya dengan mengetahui berapa banyak unit maksimal produk yang dibutuhkan.

2. Minimum Order Quantity (MOQ)

Minimum order quantity merupakan jumlah terkecil yang bisa dijual oleh supplier pada perusahaan yang membutuhkan suatu unit barang. Jika perusahaan tidak dapat membeli jumlah minimum tersebut, supplier tidak akan menjualnya sama sekali.

Baca Juga: Pentingnya Pengembangan Pelanggan dalam Strategi Perencanaan Bisnis

3. Just-in-Time (JIT)

Secara definitif, Just-in-Time inventory management adalah metode yang mengatur pemesanan bahan baku dari supplier sesuai dengan jadwal produksi. Metode ini bisa mengurangi biaya penyimpanan akibat pemesanan terlalu awal atau tidak tepat waktu.

Untuk mengetahui biaya penyimpanan, metode dalam inventory control merupakan cara yang bisa dilakukan. Sistem FIFO adalah sistem di mana barang yang lebih lama dijual duluan untuk menjaga kebaruan inventaris. Sementara, LIFO memiliki sistem barang baru justru dijual lebih awal untuk menjaga inventaris kehilangan kualitasnya.

4. First in, first out (FIFO) dan last in, first out (LIFO)

5. Safety Stock Inventory

Perusahaan harus memesan bahan baku atau barang dengan jumlah yang lebih banyak dari permintaan yang ada, jika menggunakan safety stock inventory. Hal ini dilakukan agar bisa mengatasi kekurangan maupun kehabisan barang ketika ada permintaan lebih. 

Biasanya, tidak akuratnya perkiraan jumlah permintaan dalam inventory management adalah akibat forecasting yang kurang tepat dan perubahan yang tidak terduga di pasar.

Baca Juga: Memahami Inclusive Design, Konsep Desain untuk Semua Pengguna

Demikianlah penjelasan Jobnas.com terkait inventory management dalam bisnis. Jika kamu ingin mendalami istilah lain dalam dunia bisnis, kamu bisa membaca artikel lainnya dengan topik serupa dari Jobnas.com.

0
559