Menu

Evangelism Marketing

Iwan Bisa
11 bulan yang lalu
0

Jobnas.com – Istilah “evangelism Marketing”, merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi sebuah brand tanpa perlu mengeluarkan begitu banyak usaha. Banyak tim marketing di luar sana yang mendambakan strategi ini. Hal ini dikarenakan perusahaan tempat mereka bekerja hanya perlu membuat produk berkualitas tinggi, lalu membiarkan orang lain menyebarkan kabar baik seputar produk tersebut.

Reputasi produk dan brand diasosiasikan dengan hal-hal baik, lalu mereka bisa mengarahkan fokus ke hal lain yang mungkin lebih penting. Untuk memahami lebih dalam, Jobnas.com telah menyediakan seputar strategi ini untukmu. Yuk, simak !

Pengertian Evangelism Marketing

Evangelism marketing biasa disamakan dengan pemasaran word of mouth (dari mulut ke mulut), yang memanfaatkan pelanggan sebagai “agen pembawa kabar baik”. Dilansir dari Marketing Schools, evangelism marketing bergantung pada pelanggan setia yang menyebarkan pesan-pesan pemasaran ke calon pelanggan lainnya. 

Semisal begini, ada perempuan bernama Nadia yang pergi ke restoran “Mantap Jiwa”. Ia menyukai makanan yang disajikan dan juga pelayanan yang diberikan di sana. Syahdan, ia merekomendasikannya ke Rukmini yang merupakan kerabat dekatnya atau bahkan meng-upload di media sosial mengenai restoran tersebut.

Nah, dalam konteks ini, Nadia termasuk orang-orang yang menjalankan teknik pemasaran ini disebut sebagai brand evangelist. Mereka merupakan pelanggan setia yang memiliki hubungan spesial dengan sebuah brand, sehingga rela melakukan sebuah usaha untuk mempromosikan produknya. 

Baca Juga : Bagaimana Cara Menggadaikan Barang di Pegadaian?

Berbeda dengan influencer yang diberi reward untuk melakukan promosi, brand evangelist ini melakukannya secara sukarela karena puas dengan apa yang mereka dapatkan. Meskipun sering disamakan dengan word of mouth marketing, teknik ini sebenarnya sedikit berbeda.

Dengan kata lain, orang-orang yang menjalankannya memiliki keterkaitan yang lebih dalam dengan brand yang sedang disebarluaskan. Evangelism marketing dijalankan oleh orang-orang yang memiliki asosiasi dari level emosional, sehingga tidak akan berpaling ke produk lain meskipun harganya lebih murah. Bisa dikatakan brand loyalty-nya cukup tinggi, karena sudah percaya dengan produk-produk yang ditawarkan oleh brand tersebut.

Contoh Brand yang Menggunakannya

Setelah mempelajari pengertiannya, kali ini Glints ingin memberikan contoh brand yang menggunakan strategi ini, disarikan dari Study.com.

Terdapat sebuah brand celana pendek dan celana renang khusus untuk pria, Chubbies. Mereka menawarkan produk menarik dengan kualitas tinggi, lalu menjadikan pelanggannya sebagai brand evangelist.

Hal ini dilakukan dengan meminta para pelanggan untuk foto menggunakan produk mereka, lalu mengunggahnya di media sosial. 

Lalu, apa untungnya bagi pelanggan Chubbies? Tentu saja mendapatkan produk berkualitas tinggi, dengan layanan yang sangat baik juga. 

Jadi, hubungan ini bisa dibilang merupakan simbiosis mutualisme. Pelanggan senang, calon pelanggan lainnya pun akan terus-menerus datang. 

Sebenarnya ada dua tipe brand evangelist, yaitu eksternal seperti contoh sebelumnya, dan juga dari pihak dalam perusahaan. 

Contohnya adalah Guy Kawasaki yang mengurus pemasaran Macintosh pada tahun 1984. 

Ia disebut sebagai “Bapak evangelism marketing” karena mencetuskan istilah evangelist pada pelanggan setia yang percaya terhadap kualitas produk Apple.

Tentu kamu membutuhkan para evangelist untuk menjalankan evangelism marketing. Para evangelist akan datang tentu saja kalau produk dan layanan yang ditawarkan memang sudah baik dari sananya. 

Jadi, terus dengarkan feedback dari pelanggan dan utamakan kepuasannya. Alhasil, brand loyalty akan meningkat dan mereka pasti secara otomatis menyebarkan kesan-kesan baik kepada calon pelanggan lainnya. 

Baca Juga : 6 Kesalahan dalam Mengatur Keuangan Pribadi

Kalau ingin cara mudah, kamu juga bisa meminta teman satu tim atau karyawan lain di perusahaan untuk menjadi brand evangelist dan mempromosikan produk ke khalayak ramai. Bagaimana, apakah kamu jadi lebih paham tentang evangelism marketing dan tertarik untuk menggunakannya dalam strategi pemasaran produkmu?

Kalau ingin belajar lebih banyak seputar marketing dan mendapatkan tips bermanfaat seputar pengaplikasiannya, kamu bisa membaca artikel dari Jobnas.com lainnya, lho.