Menu

Bank Digital

Iwan Bisa
4 bulan yang lalu
0

Jobnas.com – Berdasarkan Laporan dari studi McKinsey, 50% konsumen Indonesia mempertimbangkan migrasi ke Bank yang tak punya kantor atau juga bisa desebut sebagai Bank Digital (digital banking).

Apa maksud dari istilah ini? Selain itu, apa perbedaannya dengan mobile atau internet banking ?

Bagaimana perkembangannya sejak dulu? Haruskah kamu menjadi salah satu nasabahnya?

Jawabannya ada dalam artikel ini. Simak selengkapnya, yuk!

Apa Itu Digital Banking?

Kita akan memulai awal pembahasan dari pengertian. Melansir dari Temenos bank digital adalah salah satu aktivitas perbankan yang dilakukan sepenuhnya di internet.

Mungkin kamu sudah sangat akrab dengan mobile banking dan intertenet banking. Keduanya dalam istilah perbankan mempunyai makna yang berbeda.

Keduanya memang sama-sama dilakukan di dalam dunia digital. Ada yang menggunakan SMS, ada juga yang memanfaatkan dunia internet.

Selain itu, fitur di sana sangat terbatas. Keduanya hanya punya layanan deposito, transfer uang, pembayaran, dan lain-lain. Sisanya hanya bisa dilakukan di bank offline.

Hal ini berbeda dengan digital banking. Jenis bank ini memberikan layanan pembukaan dan penutupan rekening secara online.

Tentu saja, administrasi rekening ini tidak bisa terjadi di bank biasanya. Kamu harus pergi ke kantor mereka untuk itu.

Terlebih lagi, tidak ada satu pun traksaksi yang dilayani di luar jaringan. Semua terjadi melalui internet.

Indonesia sudah memiliki regulasi terkait layanan ini, lho. Semuanya tertuang di Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.03.2018.

Peminatnya sendiri tak sedikit, apalagi di masa pandemi corona. Melansir CNBC, transaksi di sana naik hingga 60%.

Baca Juga: Kenali Digital Gold Currency dan Kelebihannya di Dunia Investasi

Bagaimana Awal Mula Digital Banking?

Bank digital berkembang bersama dunia fintech. Salah satu akarnya adalah mesin anjungan tunai mandiri (ATM).

Kata Securities, mesin ini muncul pada 1960-an. Untuk pertama kalinya, seorang nasabah tidak perlu lagi untuk repot ke bank untuk mengakses rekeningnya.

Kemunculan internet juga mengubah dunia perbankan, lho.

Akan tetapi, pada awalnya dunia digital ini hanya digunakan di balik layar bank. Misalnya, untuk pemantauan rekening atau transfer dana.

Jaringan ini baru ditawarkan ke depan nasabah pada tahun 1990-an. Saat itu, transaksi bank seperti transfer dana bisa dilakukan secara online.

Perlahan tapi pasti, dunia digital terus berkembang. Penggunaan smartphone juga makin marak.

Pada akhirnya, bank pun punya semakin banyak layanan online. Pada akhirnya, ia bisa berpindah sepenuhnya ke internet.

Haruskah Kamu Menggunakan Digital Banking?

Kamu telah memahami pengertian dan sejarah dari jenis bank ini. Lantas, apakah kamu harus jadi nasabahnya?

Sebelum memutuskan, pahami dulu plus minus darinya, yuk! Dirangkum dari GOBankingRates, ini dia informasinya.

1. Kelebihan Bank Digital

Layanan rekening online sangat mudah diakses. Di mana pun kamu berada, kapan pun kamu menginginkannya, ia selalu ada.

Bahkan, saat rebahan pun, selama adanya internet, kamu bisa membuka rekening. Semua ini tentu sangat praktis.

Hal ini berbeda dengan bank konvensional. Di sana, kamu harus menunggu jam buka bank jika ingin punya akses perbankan secara penuh.

Layanan online juga mendorong kecepatan transaksi, tidak perlu lagi menunggu antrean berjam-jam.

Selain itu, perusahaan keuangan digital tidak perlu menyewa kantor, membayar listrik, dan lain-lain. Ternyata, ini punya dampak baik terhadapmu.

Ini berarti, bank tidak perlu memiliki pemasukan lebih. Mereka tak perlu meminta terlalu banyak darimu.

Ucapkanlah selamat tinggal kepada biaya administrasi bank yang mahal. Selain itu, bunga simpanan yang kamu terima bisa menjadi lebih tinggi.

2. Kekurangan Bank Digital

Sayangnya, dengan adanya berbagai kelebihan digital banking datang dengan kekurangan pula.

Salah satunya adalah internet itu sendiri. Bukan rahasia lagi, kadang kala seperti koneksi ini harus putus karena masalah teknis.

Terlebih lagi, internet bukanlah rumah para malaikat. Di sana, bisa saja ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bisa-bisa, rekeningmu kena bobol. Pencurian berbagai data pribadi juga sangat lumayan rawan terjadi di sana.

Selain itu, akses terus-menerus ke rekening bisa membuatmu semakin boros. Belum lagi, ada e–commerce yang kerap menghujanimu dengan diskon.

Tentu saja, semua ini bisa kamu cegah. Misalnya, pilih lembaga keuangan digital yang terpercaya.

Selain itu, kamu bisa menaruh sebagian uangmu saja di sana. Taruh sisa dana yang harus kamu tabung di rekening non-digital.

Baca juga: Yuk, Ketahui 7 Istilah Videografi Supaya Kalian Makin Handal

Demikian informasi dari Jobnas soal digital banking. Dengan atau tanpa layanannya, pastikan keuanganmu selalu sehat, ya!

Lantas, bagaimana cara mengelola rupiah yang baik dan benar? Apakah ada strategi yang bisa diterapkan?