Lebih Penting Manakah Antara Proses dan Hasil?

Google News
Lebih Penting Manakah Antara Proses dan Hasil?
Lebih Penting Manakah Antara Proses dan Hasil?

Jobnas.com – Disadari atau tidak, proses setiap individu dalam bekerja pasti berbeda. Begitu hasilnya. Jadi, seandainya kalian disuruh memilah antara pilihan yang berorientasi pada hasil dan yang berorientasi pada proses, mana yang akan kalian pilih?

Setelah tahu jawabannya, sebenarnya siapa yang lebih baik di antara kedua pilihan tersebut? Pada artikel ini, Jobnas akan menjelaskan dan mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Jika kalian ingin mnegetahui jawabannya kalian bisa membaca artikel ini dengn lengkap!

Arti dari Keduanya

Alangkah baiknya jika kalian terlebih dahulu mengetahui pengertian dari keduanya.

Kalian dapat membacanya perbedaanya di bawah ini. Mengenai informasi ini Jobans telah merangkumnya tentunya berdasarkan pada Psychology Today dan Industry Today.

1. Berorientasi pada Hasil

Orang-orang dengan kebiasaan seperti ini lebih cenderung fokus pada hasil akhir. Meskipun mereka juga memikirkan prosesnya, mereka seringkali fokus pada tujuan. Karena berorientasi hasil adalah kebiasaan kerja, komunikasi dan kompetisi.

Tentunya sangat bagus. Tidak bis dipungkiri, pada kenyataanya saat kalian pergi bekerja, kalian memiliki banyak tugas yang harus kalian selesaikan. Dengan berfokus pada “menyelesaikan”, bukan “bagaimana menyelesaikannya”, kalian pasti bisa menjadi produktif dan cepat.

Sangat disayangkan, jika kalian tidak berhati-hati, orang yang berorientasi pada hasil dapat melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Ini termasuk proses yang merugikan, persaingan tidak sehat dan proses serupa lainnya.

2. Orientasi pada Proses

Sedangkan penegrtian yang kedua, di sisi lain ada juga orang yang berorientasi pada proses. Orientasi proses itu sendiri juga merupakan kebiasaan bekerja, berkomunikasi dan bersaing.

Orang-orang yang fokus pada proses atau langkah-langkah. Meski begitu, tentu saja, mereka juga memiliki tujuan dalam pikiran. Ketika mereka sukses, mereka cenderung mempertanyakan perjalanan mereka ke titik itu.

Apakah semua proses berjalan dengan benar? Mungkinkah kesuksesan ini lebih besar, atau bahkan lebih kecil, jika tindakan lain diambil?

Ini tentu saja sangat bagus. Namun, bekerja tentu memiliki prosedur dan etika yang tidak bisa diganggu gugat. Sayangnya, kebiasaan ini bisa membuat mereka kikuk, bahkan perfeksionis. Karena semua tahapan harus dilalui sesuai dengan proses yang sedang berjalan.

Berorientasi pada Hasil dengan Berorientasi pada Proses

Setelah klain sudah mengetahui mengenai penegertian keduanya. Sekarang, mari kita mulai membandingkan keduanya secara langsung, coba ditebak, mana yang lebih baik antara berorientasi pada hasil dan berorientasi pada proses?

Jawaban sangat begitu singkat, yaitu tidak ada. Jobnas akan menjelaskannya kepada kalian secara lebih rinci lagi.

Aturan nyata dibuat untuk menjaga agar pekerjaan tetap teratur. Namun, jika boleh mnegutip pernyataan dari Forbes, aturannya bisa jadi terlalu rumit. Jika demikian, prosedur tersebut dapat menyebabkan kesulitan daripada meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Karena kalian harus mengikuti aturan hanya karena itu adalah sebuah aturan, alih-alih berfokus pada tujuan aturan. Tujuan itu memudahkan kalian untuk mencapai tujuan kalian saat ini.

Ini bisa menjadi petanda bagi orang-orang yang berorientasi pada proses. Jadi berhati-hatilah, jangan lupakan tujuan besar dalam pekerjaan kalian.

Jadi, jika aturan benar-benar berbahaya, apakah kalian hasrus menjadi seseorang yang harus berorientasi pada hasil?

Tunggu sebentar. Terlalu banyak kebebasan di tempat kerja tidak selalu baik. Di artikel lain, tetap mengacu pada penyataan Forbes aturan bisa membuat pekerjaan lebih teratur. Jika muncul masalah, akarnya bisa cepat ditemukan dan juga cepat teratasi.

Untuk memudahkan Anda membandingkan keduanya, jobnas telah menuliskan sebuah contoh yang diadaptasi dari Psychology Today tentunya.

Bayangkan, kalian sudah punya anak. Idealnya, dia tidak akan dimarahi dan perlahan mengajarkan hal yang benar. Ini adalah bentuk pendekatan berorientasi proses. Namun suatu hari, anak itu menyeberang jalan tanpa melihat ke segala arah.

Idealnya, kalian tentu mengabaikan nasihat “jangan membentak anak” karena ada hal lain yang lebih penting. Ini persoalan kehidupan anak tersebut. Dengan memperingatinya, anak kalian dapat membatalkan penyeberangan. Itu bisa menyelamatkannya dari bahaya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua kebiasaan tersebut sama-sama baik. Pilihannya tidak berorientasi pada hasil versus berorientasi pada proses. Secara khusus, pekerjaannya adalah fokus pada alternatif atau fleksibilitas.

Baca juga: Ketahuilah Bahayanya Menggunakan Earphone Atau Headset Terlalu Lama

Tentunya setelah membaca informasi di atas, kalian akan lebih leluasa untuk memilih. Memang, bagaimana caranya menjadi pribadi yang fleksibel? kalian dapat mempelajari lebih lanjut di sini.

Jobnas akan selalu memberikan informasi terbaru dan kebohongan terhadap dunia kerja.